UMKM Keripik Belut Bu Bekti Bertahan 20 Tahun di Sleman
Bu Bekti menjalankan usaha keripik belut di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, selama lebih dari 20 tahun. Meski menghadapi keterbatasan stok bahan baku, usahanya tetap bertahan dan menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga. Saat permintaan naik, ia harus mencari pasokan dari luar daerah untuk menjaga produksi.
Daya tahan usaha dan tantangan utama
Usaha ini sudah berjalan dua dekade dan konsisten melayani pelanggan setia. Modal terbatas menjadi tantangan, namun masalah terbesar adalah ketersediaan belut. Ketika pesanan melonjak, stok belut lokal sering tidak mencukupi sehingga produksi terhambat.
"Kalau permintaan banyak, stok belut di Jogja sering kali terbatas,"
Pasokan dan kualitas belut
Saat ini sebagian besar pasokan belut diperoleh dari Malang, Jawa Timur. Menurut Bu Bekti, belut asal Malang lebih kecil, teksturnya lebih lembut, dan rasanya lebih gurih. Karakteristik itu membuatnya cocok diolah menjadi keripik.
"Belut yang kecil itu lebih lembut dan gurih. Semakin kecil ukurannya, justru harganya semakin mahal karena lebih disukai konsumen untuk dijadikan keripik,"
Belut berukuran besar tetap dimanfaatkan untuk olahan lain seperti oseng-oseng dan sambal belut. Penyesuaian ini membantu memaksimalkan bahan baku yang tersedia.
Dukungan, kapasitas produksi, dan pemasaran
Pemerintah pernah memberikan bantuan berupa peralatan produksi dan program rehabilitasi rumah produksi. Bantuan ini dinilai meningkatkan kapasitas dan kelayakan usaha. Dengan dukungan tersebut, Bu Bekti mampu menjaga kontinuitas produksi meski masih menghadapi fluktuasi pasokan.
Lokasi usaha dan produk
Rumah produksi berlabel Keripik Belut Sawah berada di Klaci 1 RT 05 RW 09, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Sayegan, Kabupaten Sleman. Dari lokasi itu, berbagai olahan belut diproduksi dan dipasarkan kepada pelanggan lama.
- Keripik belut (produk utama)
- Oseng-oseng belut
- Sambal belut
Dampak ekonomi dan harapan
Penjualan keripik belut membantu meningkatkan perekonomian keluarga dan menambah penghasilan suami. Bu Bekti berharap semakin banyak perempuan yang memiliki usaha mandiri untuk berkontribusi pada pendapatan keluarga.
"Menurut saya, ibu-ibu sekarang memang lebih baik punya penghasilan sampingan. Yang membuat saya paling bahagia tentu saat pesanan dan omzet sedang banyak,"
Dengan menjaga kualitas produk dan memilih bahan baku terbaik, UMKM keripik belut Bu Bekti berupaya tetap kompetitif. Ke depan, kebutuhan akan pasokan belut yang stabil dan dukungan rantai pasok lokal akan menentukan kemampuan usaha untuk berkembang.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...