Nasional

Mengapa Indonesia Sering Gempa? Penjelasan Peneliti BRIN

Bagikan:
Ilustrasi lempeng tektonik dan gempa di wilayah Indonesia

Gempa magnitudo 4,8 mengguncang wilayah Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa 22 September 2026. BMKG mencatat pusat gempa berada di laut, sekitar 31 kilometer timur laut Mbay. Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Edy Hidayat, menjelaskan penyebab frekuensi gempa tinggi di Indonesia.

Penyebab: Pertemuan tiga lempeng tektonik

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng besar dunia. Kondisi ini menjadikan wilayah kita rentan terhadap aktivitas gempa dan gunung api.

  • Lempeng Indo-Australia bergerak dari selatan
  • Lempeng Eurasia dari utara
  • Lempeng Pasifik dari timur

Edy menjelaskan bahwa gerakan lempeng tersebut menghasilkan akumulasi energi yang dilepaskan sebagai gempa. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berskala panjang.

"Mereka ini bergerak terus, punya kecepatan antara 7 sampai 11 sentimeter per tahun. Energinya nanti diakomodasi, kemudian tersalurkan ke kepulauan Indonesia, baik dalam bentuk getaran gempa ataupun aktivitas gunung api," ujar Edy Hidayat.

Subduksi dan aktivitas magmatisme

Salah satu mekanisme utama adalah subduksi, di mana lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah kepulauan Indonesia. Sejumlah zona subduksi membentang dari barat Sumatra hingga selatan Jawa dan ke timur Indonesia.

"Batas-batas antara pertemuannya, di situlah terjadi gesekan yang kemudian akumulasi energi terkumpul. Jika energi itu tak lagi bisa ditahan batuan, gesekan tersebut akan pecah menjadi gempa," ujar Edy.

Selain gempa, jalur subduksi berdempetan dengan Ring of Fire—kawasan gunung berapi aktif. Aktivitas magmatisme ini tidak hanya menimbulkan risiko erupsi, tetapi juga menghasilkan logam mulia dan potensi panas bumi.

Edy menambahkan bahwa abu vulkanik dari erupsi sering kali menyuburkan tanah, sehingga wilayah sekitar gunung berapi cenderung subur untuk pertanian.

Pemetaan risiko dan langkah kesiapsiagaan

BRIN telah memetakan jalur-jalur potensi gempa di Indonesia beserta perkiraan magnitudonya. Peta ini didiseminasikan ke pemerintah daerah dan BPBD, khususnya wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan laut.

BRIN juga menyusun panduan sederhana bersama Kementerian Pendidikan dan Kementerian Dalam Negeri. Panduan itu memuat langkah darurat saat gempa serta daftar isi tas siaga bencana untuk masyarakat dan sekolah.

Prediksi gempa dan "waktu emas" menyelamatkan diri

Edy menegaskan sampai kini belum ada alat yang dapat memprediksi dengan tepat kapan gempa akan terjadi. Namun pemantauan BMKG membantu memperkirakan potensi tsunami pascagempa di laut.

"Seperti kejadian di Pangandaran, itu cuma beberapa menit. Tetapi justru beberapa menit ini adalah waktu emas, golden time, untuk kita bisa menyelamatkan diri," katanya.

Pemahaman tentang penyebab dan peta risiko gempa menjadi kunci mitigasi. Pemerintah daerah dan masyarakat di pesisir diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan, memperbarui rencana evakuasi, dan mengisi tas siaga sesuai panduan resmi.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait