Nasional

BMKG: Kabut Asap Selimuti Pekanbaru, PM2.5 Tembus 508,8

Bagikan:
Kabut asap menutupi jalan di Pekanbaru dengan visibilitas rendah dan pengendara memakai masker

BMKG mencatat 2.193 titik panas di Pulau Sumatra pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang menyebabkan kabut asap tebal menyelimuti beberapa daerah termasuk Pekanbaru. Data menunjukkan sebaran titik panas terbesar di Sumatra Selatan, sementara Provinsi Riau menyumbang 393 titik yang memicu penurunan kualitas udara hingga kategori sangat berbahaya.

Data hotspot dan kualitas udara

Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Ranti Kurniati, merinci pemantauan titik panas dan kualitas udara pada hari itu. Lonjakan titik panas memicu peningkatan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Pekanbaru mencapai 508,8 mikrogram/m3, angka yang jauh melampaui ambang aman.

Ranti menekankan hubungan antara aktivitas titik panas dan kondisi pencemaran udara saat ini.

"Masuk kategori berbahaya. Tingginya konsentrasi partikulat tersebut terjadi ketika aktivitas titik panas di Sumatra masih cukup tinggi,"

Penurunan visibilitas di sejumlah wilayah

Kabut asap menurunkan jarak pandang di beberapa kota di Riau. Pengamatan menunjukkan penurunan visibilitas signifikan yang berdampak pada aktivitas sehari-hari dan transportasi.

  • Rengat: sekitar 2 kilometer (berasap)
  • Pelalawan: sekitar 5 kilometer
  • Tambang: sekitar 3 kilometer
  • Pekanbaru: jarak pandang turun hingga 2 kilometer

Respons aparat dan imbauan keselamatan

Direktorat Lalu Lintas Polda Riau membagikan ribuan masker gratis di kawasan Tugu Keris untuk membantu warga dan pengguna jalan mengurangi paparan asap. Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Riau, AKBP Dasril, memimpin aksi pembagian masker dan memberikan imbauan keselamatan berkendara.

"Alhamdulillah, ribuan masker berhasil kita bagikan kepada masyarakat dan pengendara yang melintas. Kondisi asap cukup tebal dan jarak pandang juga tidak terlalu jauh,"

Petugas juga mengimbau pengendara untuk menyesuaikan kecepatan dan tidak memaksakan melaju cepat saat visibilitas terbatas.

Dampak kesehatan dan langkah pencegahan

Konsentrasi PM2.5 pada level sangat tinggi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru atau jantung. Pemerintah daerah dan aparat diminta meningkatkan sosialisasi penggunaan masker dan pencegahan kebakaran hutan selama musim kemarau.

Situasi ini menuntut pengawasan berkelanjutan pada titik panas dan koordinasi penanggulangan kebakaran agar kualitas udara dapat pulih dalam beberapa hari mendatang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait