Izin Tambang Galian C di Batang Toru Belum Jelas, DLHK Sumut Buka Suara
Medan — Dugaan pemberian izin tambang galian C di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, belum mendapat kepastian. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sumatera Utara menyatakan instansinya tidak memiliki catatan izin itu dan mengarahkan pertanyaan ke pemerintah kabupaten setempat.
DLHK Sumut: tidak ada rekomendasi tercatat
Kepala DLHK Sumut, Heri Wahyudi Marpaung, mengatakan pihaknya belum menerima atau mencatat perubahan status perizinan di Batang Toru. Pernyataan ini disampaikan saat dimintai tanggapan terkait dugaan izin pada Selasa (28/7).
"Coba ditanya ke kabupaten. Di tempat kita belum ada rekomendasi itu,"
Heri menegaskan bahwa DLHK Provinsi tidak mengeluarkan rekomendasi terkait izin galian C di lokasi tersebut. Ia mendorong pihak-pihak terkait untuk mengonfirmasi proses administrasi kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan.
Kekhawatiran terhadap risiko lingkungan
Batang Toru dikenal sebagai kawasan yang rawan bencana dan memiliki kerentanan lingkungan tinggi. Aktivitas pertambangan, termasuk galian C, dikhawatirkan dapat memperparah risiko longsor, erosi, dan gangguan ekosistem jika tidak diawasi ketat.
Karena itu, publik menuntut kepastian soal keabsahan izin dan kesesuaian kegiatan tambang dengan ketentuan environmental management dan tata ruang setempat. Tanpa kejelasan, spekulasi dan kekhawatiran masyarakat bisa meningkat.
Desakan transparansi ke Pemerintah Kabupaten
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan didesak untuk segera memberikan penjelasan terbuka. Penjelasan yang diminta meliputi dokumen perizinan, analisis dampak lingkungan, serta kesesuaian kegiatan tambang dengan Perda tata ruang.
Langkah transparan dianggap penting agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dan agar publik mendapatkan informasi resmi. Selain itu, keterbukaan membantu memastikan pengawasan lingkungan berjalan efektif.
Implikasi dan langkah selanjutnya
Sampai ada klarifikasi resmi dari Pemkab, status izin di Batang Toru tetap menjadi polemik. Instansi provinsi dan kabupaten perlu berkoordinasi untuk menjelaskan proses perizinan dan memastikan perlindungan kawasan rawan bencana tersebut.
Publik kini menanti dokumen atau pernyataan resmi yang menegaskan apakah ada izin yang sah, beserta bukti bahwa semua ketentuan lingkungan dan tata ruang telah dipenuhi.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...