Ekonomi

KAI dan INKA Mulai Integrasi untuk Perkuat Industri Kereta Api

Bagikan:
Ilustrasi acara kick-off integrasi KAI dan INKA di Jakarta Railway Center

PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Industri Kereta Api (INKA) memulai proses integrasi strategis pada 21 Juli 2026 di Jakarta. Peresmian dilakukan melalui Kick-Off Integrasi KAI dan INKA di Ballroom Jakarta Railway Center untuk menyelaraskan kebutuhan operator dengan kapasitas manufaktur nasional.

Pelaksanaan kick-off dan peserta

Acara kick-off dihadiri jajaran Danantara Asset Management, direksi KAI dan INKA, tim Project Management Office (PMO), serta konsultan terkait. Langkah awal ini dimaksudkan untuk menyamakan visi dan menyusun kerangka kerja integrasi antar organisasi.

Dalam pembukaan, Desty Arlani menekankan pentingnya kepemimpinan dan budaya kerja yang solid sebagai fondasi integrasi.

Seluruh pimpinan perlu memiliki visi yang sama, membangun nilai bersama, dan menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai orientasi utama. KAI dan INKA harus menjadi satu tim yang saling menghormati kompetensi masing-masing.

— Desty Arlani, Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management

Proyeksi kebutuhan dan peluang manufaktur

KAI memproyeksikan kebutuhan Kereta Rel Listrik (KRL) hingga 2040 mencapai sekitar 156 rangkaian. Proyeksi ini belum termasuk kebutuhan kereta rel diesel, kereta jarak jauh, lokomotif, dan sarana angkutan barang.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan integrasi akan membuka peluang besar bagi peningkatan kapasitas produksi dan penguasaan teknologi oleh industri nasional.

Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat. Proyeksi kebutuhan sarana perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan desain, kapasitas produksi, pengujian, dan penyerahan produk yang lebih selaras.

— Bobby Rasyidin, Direktur Utama KAI

Manfaat bagi layanan dan kualitas produk

Integrasi diharapkan menciptakan kepastian permintaan bagi produsen lokal, sekaligus meningkatkan kualitas dan standardisasi produk. KAI melihat hubungan erat antara operator dan manufaktur sebagai kunci percepatan pengembangan teknologi serta perencanaan jangka panjang.

KAI mencatat jumlah pelanggan KAI Group Semester I 2026 mencapai 258,99 juta, naik 7,55% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Peningkatan mobilitas ini menuntut kesiapan kapasitas sarana untuk menjaga keselamatan dan kualitas layanan.

Peran INKA dan langkah selanjutnya

Direktur Utama INKA, Bambang Jatmika, menyebut kick-off sebagai tonggak integrasi yang menggabungkan pengalaman operasional KAI dengan kemampuan desain dan produksi INKA.

Integrasi ini menjadi bagian dari cita-cita membangun industri kereta api nasional yang kuat. KAI dan INKA memiliki peran yang saling berkaitan, mulai dari pemetaan kebutuhan sarana hingga produksi yang mendukung pelayanan kepada masyarakat.

— Bambang Jatmika, Direktur Utama PT INKA (Persero)

Ke depan, kedua pihak akan menyusun rencana rinci terkait perencanaan desain, kapasitas produksi, pengujian, dan proses serah terima. Tujuannya memastikan produk buatan dalam negeri lebih aman, andal, dan kompetitif.

Implikasi jangka panjang

Integrasi KAI dan INKA dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem perkeretaapian nasional. Jika terlaksana sesuai rencana, sinergi ini berpotensi meningkatkan daya saing produk kereta buatan Indonesia dan mempercepat adopsi teknologi lokal dalam layanan transportasi massal.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait