Menperin: Industri Perhiasan Nasional Tetap Prospektif
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
Alasan optimisme: lebih dari sekadar investasi
Agus mengatakan perhiasan tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi. Produk ini juga berperan sebagai aksesori dan koleksi yang terus menarik minat konsumen.
"Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun, jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata,"
Kinerja ekspor dan kontribusi terhadap neraca perdagangan
Kementerian Perindustrian mencatat adanya pertumbuhan nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga yang signifikan. Pada 2025, nilai ekspor kumulatif mencapai USD 9,1 miliar, naik dari USD 5,5 miliar pada 2024, atau tumbuh sebesar 64,72 persen.
| Indikator | 2024 | 2025 |
|---|---|---|
| Nilai ekspor (USD) | 5,5 miliar | 9,1 miliar |
| Persentase pertumbuhan | 64,72% | |
| Unit usaha IKM | 539 unit | |
| Tenaga kerja | 21.116 orang | |
Struktur pelaku usaha dan preferensi konsumen
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka menyatakan mayoritas pelaku IKM tetap memfokuskan usaha pada produksi perhiasan. Data BPS dan SIINas menunjukkan ada 539 unit usaha dan penyerapan tenaga kerja mencapai 21.116 orang.
Direktur Industri Aneka menambahkan bahwa pilihan produk perhiasan semakin beragam dari sisi kadar dan gramasi. Perhiasan berkarat kecil dan gramasi ringan masih diminati karena nilai guna ganda: aksesori dan simpanan investasi.
"Bagi konsumen lokal, emas perhiasan dengan karat dan gramasi kecil serta desain yang menarik tetap bisa menjadi simpanan favorit. Sekaligus sebagai bentuk investasi,"
Tantangan bagi pelaku usaha
Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera menyorot tantangan masuknya bisnis logam mulia. Ia menekankan kebutuhan branding kuat dan jaminan keamanan produk. Fluktuasi harga bahan baku menjadi risiko yang harus diperhitungkan pengusaha.
"Pengusaha tidak bisa sembarangan melakukan perluasan usaha. Harga bahan baku berubah hampir setiap hari, sementara itu konsumen cenderung memilih produk dengan kadar emas atau gramasi lebih ringan agar lebih efisien,"
Dengan dukungan pasar domestik dan permintaan ekspor yang tumbuh, industri perhiasan dipandang tetap menjanjikan. Namun pelaku usaha perlu strategi branding, manajemen risiko harga bahan baku, dan inovasi produk untuk mempertahankan daya saing.
Berita Terkait
Kemendag: HPE dan HR Emas Turun Awal Juni 2026
Kemendag menetapkan HPE USD148.396,49/kg dan HR USD4.615,65/troy ounce untuk 1–14 Juni 2026, didorong koreks...
Kemnaker Gratiskan Sertifikasi untuk Alumni MagangHub
Kemnaker menyediakan sertifikasi kompetensi gratis bagi alumni MagangHub mulai 1 Juni 2026 untuk memperkuat...
KAI Percepat Proyek Stasiun Bogor untuk Layani 155 Juta
KAI percepat pengembangan peron Stasiun Bogor untuk melayani 155 juta penumpang; proyek dimulai April 2026 d...
Wamendag Pacu Perluasan Akses Pasar Global Produk Halal
Wamendag Dyah Roro dorong perluasan akses pasar global untuk produk halal lewat kerja sama dagang, program U...
Menperin: 2,07 Juta IKM Pangan Jadi Sektor Pemberdayaan
Menperin sebut IKM pangan 2,07 juta unit jadi sektor pemberdayaan, menyumbang 46,63% IKM nasional dan menunj...
Cara Daftar Subsidi Tepat Pertamina untuk Pertalite dan Solar
Panduan lengkap mendaftar program Subsidi Tepat Pertalite dan Solar lewat MyPertamina, syarat, langkah verif...