IHSG Melemah 0,03% ke 6.234,5 pada Penutupan 3 Agustus 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,03 persen pada level 6.234,5 pada penutupan perdagangan Senin, 3 Agustus 2026. Penurunan 1,63 poin ini terjadi di tengah sentimen global dan domestik, termasuk kenaikan harga minyak dan keraguan pasar terhadap pernyataan pejabat The Fed.
Pergerakan pasar dan data perdagangan
IHSG dibuka pada 6.272,61 dan sempat menyentuh posisi terendah 6.212,55. Saham yang turun mendominasi dengan 348 emiten, sementara 292 saham naik dan 150 stagnan.
Nilai transaksi tercatat sebesar Rp14,23 triliun, volume perdagangan mencapai 38,54 miliar lembar saham, dan frekuensi transaksi lebih dari 2,32 juta kali. Angka-angka ini menunjukkan aktivitas pasar yang relatif tinggi meski indeks hanya bergerak tipis turun.
Faktor sentimen yang mempengaruhi
Sentimen global ikut menekan pasar. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Harga minyak WTI naik 1,3 persen ke USD84,68 per barel, sedangkan Brent naik 1,2 persen ke USD90,12 per barel.
Di sisi lain, pernyataan pejabat bank sentral AS menimbulkan keraguan pasar. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai pernyataan tersebut belum cukup meredakan kecemasan investor.
“Pernyataannya bahwa ‘tidak ada tongkat ajaib’ untuk mengatasi tekanan harga, dinilai belum cukup menenangkan pasar,” ucap Fanny.
Sementara itu, bursa AS dan pasar kawasan Asia menutup perdagangan akhir pekan lalu di zona hijau, namun hal itu belum sepenuhnya menular ke pasar domestik pada sesi Senin.
Data ekonomi yang dinantikan investor
Investor domestik menantikan serangkaian rilis data penting sepanjang pekan ini. Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebutkan beberapa indikator yang perlu dicermati:
- PMI manufaktur
- Angka pertumbuhan ekonomi
- Indeks harga properti
- Cadangan devisa
- Tingkat inflasi dan neraca perdagangan
Selain itu, penurunan harga BBM non-subsidi sejak 1 Agustus 2026 dipandang bisa menambah faktor positif bagi inflasi dan konsumsi domestik.
Prospek pasar
Dengan kombinasi faktor global dan domestik, IHSG berpeluang mengalami volatilitas dalam jangka pendek. Investor akan memantau rilis data ekonomi dan perkembangan geopolitik sebagai penentu arah selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Berpotensi Naik, Investor Tunggu Inflasi dan Neraca Perdagangan
IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan Senin ini, didorong sentimen data inflasi dan neraca perdagangan ser...
Rupiah Berisiko Melemah Pekan Depan akibat Rilis Data BPS & BI
Rupiah berisiko melemah pekan depan karena rilis data BPS dan BI, termasuk neraca perdagangan, inflasi, dan...
Prakiraan Harga Emas Pekan Depan: Support Rp2,41Jt, Resistansi Rp2,72Jt
Harga emas pekan depan diprakirakan fluktuatif akibat ketegangan geopolitik; support Rp2,41 juta/gram dan re...
Harga Semangka Naik Jadi Rp6.000/kg di Aceh Utara
Pasokan semangka menipis pasca-puncak panen, sehingga harga di Aceh Utara naik menjadi Rp6.000 per kilogram.
Puncak Panen: Harga Rambutan Aceh Turun Jadi Rp8.000/kg
Harga rambutan Aceh di Aceh Utara turun jadi Rp8.000/kg pada puncak panen 2 Agustus 2026 akibat pasokan yang...
Hidroponik NTT: Ajak Anak Muda Tak Malu Jadi Petani
Robinhood Siahaan mendorong pengembangan hidroponik di NTT agar pangan lokal mandiri dan anak muda tak malu...