IHSG Menguat Tipis 0,17% di Awal Sesi, Investor Waspadai Tekanan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,17 persen pada awal perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, mencatat level 6.141,16. Kenaikan ini terjadi meski pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap tekanan eksternal dan domestik yang dapat menekan pasar saham.
Pergerakan indeks dan data perdagangan
Pada sesi pertama, IHSG naik 10,57 poin dari penutupan sehari sebelumnya. Sentimen pasar tetap terkendali namun cenderung terbatas karena sejumlah risiko yang masih mengintai. Sebelumnya, pada Selasa (28/7), IHSG ditutup melemah 0,89 persen ke level 6.130,59.
Tekanan dari pelemahan rupiah dan pergerakan dolar AS
Tim analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang memberi tekanan pada pasar. Rupiah tercatat turun 0,41 persen ke posisi Rp18.083 per dolar AS pada perdagangan Selasa.
Penguatan indeks dolar AS menjelang pertemuan The Fed juga disebut memengaruhi sentimen. Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5-3,75 persen, sehingga aliran modal dan nilai tukar tetap menjadi perhatian investor.
Proyeksi teknikal IHSG
Secara teknikal, analis memperkirakan pergerakan IHSG masih terbatas dan berisiko menguji area support. Perkiraan level support yang dipantau berada pada kisaran 6.050 hingga 6.100. Sehubungan dengan itu, analis memberikan peringatan kepada investor agar tetap mengendalikan eksposur risiko.
"Secara teknikal IHSG masih akan melemah, menguji level 6.050-6.100," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Sentimen domestik dan arus modal asing
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga bersikap wait and see terkait proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia definitif. Selain itu, rencana penambahan tarif impor AS terhadap beberapa negara Asia ikut menjadi faktor yang dipantau.
Di sisi pasar modal, Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia mencatat adanya aksi jual bersih investor asing senilai Rp788,57 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain:
- BMRI
- BBRI
- TPIA
- ANTM
- BUMI
Gabungan faktor eksternal seperti pergerakan dolar dan kebijakan The Fed, serta faktor domestik seperti posisi rupiah dan perkembangan kebijakan, membuat prospek jangka pendek IHSG tetap rentan terhadap fluktuasi.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...