IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Tunggu Data Inflasi dan Neraca Perdagangan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, berada di level 6.071,53 atau naik 0,39 poin (0,01%) dibanding penutupan sebelumnya di 6.071,14 yang sempat melemah 0,83 persen. Investor kini mencermati rilis data inflasi dan neraca perdagangan yang dijadwalkan hari ini.
Sentimen Pasar dan Perkiraan Pergerakan IHSG
Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. Mereka memproyeksikan indeks akan bergerak di kisaran 6.000 hingga 6.200 sepanjang perdagangan hari ini.
"IHSG hari ini secara teknikal masih konsolidasi pada kisaran 6000-6.200," kata Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas, Kamis, 1 Oktober 2026.
Fokus Investor: Data Inflasi September 2026
Investor menantikan data inflasi domestik yang menurut konsensus diperkirakan mengalami kenaikan bulanan menjadi 0,31% pada September 2026, dibandingkan inflasi bulan Agustus yang tercatat 0,21% bulan ke bulan.
Secara tahunan, inflasi diperkirakan meningkat menjadi 3,3% (yoy) dari 3,19% pada Agustus. Sementara inflasi inti diperkirakan naik menjadi 3,0% (yoy) dari 2,92% sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik.
Anggaran Subsidi dan Risiko Harga Minyak
Phintraco juga menyoroti perubahan alokasi subsidi dalam APBN 2027. Anggaran subsidi tercatat sebesar Rp261,5 triliun, turun sekitar Rp11,4 triliun dari angka awal Rp272,94 triliun dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2027.
"Jika kenaikan harga minyak berlanjut hingga tahun depan, maka berpotensi membuat inflasi cenderung bertahan di level tinggi," ujar Tim Phintraco.
Neraca Perdagangan dan Aktivitas Ekspor-Impor
Selain inflasi, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis neraca perdagangan bulan Agustus. Phintraco memperkirakan surplus akan meningkat menjadi USD 600 juta, naik dari surplus USD 130 juta pada Juli 2026.
Namun, pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 4,2% (yoy) pada Agustus, turun dari 6,05% pada Juli. Sebaliknya impor diperkirakan berakselerasi signifikan menjadi 31,7% (yoy), naik dari 7% pada bulan sebelumnya.
Indeks PMI Manufaktur
Indeks S&P Global Manufacturing PMI diperkirakan kembali ke zona ekspansi pada level 50,3 di September, setelah bulan sebelumnya berada di level kontraksi 49,8. Perbaikan PMI dapat menjadi katalis positif bagi sentimen pasar.
Dengan rangkaian data makro yang rilis hari ini, pelaku pasar diperkirakan akan bergerak hati-hati. Perkembangan inflasi, neraca perdagangan, dan harga minyak menjadi faktor penentu arah IHSG dalam beberapa sesi mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...