IHSG Berisiko Melemah Lagi Terseret Pelemahan Bursa Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali terkoreksi setelah penutupan Kamis lalu turun 1,2 persen ke level 6.298,61. Tekanan datang dari aksi jual investor asing yang mencatat net sell Rp1,42 triliun serta kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi sentimen global.
Kinerja pasar dan aliran modal asing
Aksi jual asing masih mendominasi pasar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BMRI, BBRI, TLKM, ANTM, dan DEWA. Sentimen tersebut mendorong sentimen lemah di pasar domestik.
Hari ini IHSG berpotensi lanjut koreksi jika gagal lagi kembali diatas level 6.300. — Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas (25 Sep 2026)
Fanny memprakirakan IHSG bergerak di rentang support 6.220-6.280 dan resistansi 6.300-6.330, sehingga level 6.300 menjadi titik psikologis penting bagi pemulihan pasar.
Dampak geopolitik dan kenaikan harga minyak
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan. Ada laporan bahwa negosiator kedua pihak sedang menjajaki opsi bertahap untuk meredakan konflik, termasuk kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz dan pelonggaran blokade ekonomi.
Ketidakpastian ini mendorong harga minyak naik tajam. Harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 3 persen ke kisaran USD107 per barel, seiring meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangan rudal di kawasan.
Ketidakpastian tentang Timur Tengah menaikkan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah. — Fanny Suherman
Sentimen regional dan pertemuan pemimpin dunia
Di Asia, bursa saham cenderung melemah karena investor bersikap hati-hati menanti perkembangan diplomasi dan pertemuan tingkat tinggi. Prospek pertemuan antara Presiden AS dan Presiden China menjadi salah satu faktor yang diamati pasar, meski belum memunculkan terobosan besar.
Pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan besar. Namun, Washington dan Beijing berpeluang memperpanjang gencatan dagang yang telah berlangsung selama 11 bulan. — Fanny Suherman
Dampak pada rupiah dan prospek IHSG
Nilai tukar rupiah kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Bank sentral menyebut pelemahan rupiah lebih banyak dipicu faktor eksternal, termasuk konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak. Pelemahan kurs ikut menekan sentimen investor di pasar saham.
Secara keseluruhan, kombinasi net sell asing, risiko geopolitik, dan kenaikan harga minyak meningkatkan probabilitas koreksi lanjutan pada IHSG dalam beberapa sesi mendatang. Investor akan memantau apakah IHSG mampu menembus kembali level psikologis 6.300 untuk mengakhiri tekanan jual ini.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
OJK dan Pemprov Jabar Perkuat Ekosistem Ayam Petelur lewat Program EGG
OJK dan Pemprov Jawa Barat meluncurkan Program EGG untuk memperkuat ekosistem ayam petelur, membuka akses pe...
Bapanas Proses 102 Tersangka, Potensi Kerugian Beras Fortifikasi Rp89 T
Bapanas memproses 102 tersangka sejak 2024 terkait pelanggaran beras fortifikasi; potensi kerugian konsumen...
Petugas KAI Sigap Bantu Penumpang Melahirkan di KRL
Petugas keamanan KAI sigap membantu penumpang melahirkan di KRL rute Rangkasbitung–Tanah Abang dan mengevaku...
PLN Pasok 2.038 MVA untuk 159 Pusat Data, Konsumsi 2.378 GWh
PLN memasok 2.038 MVA untuk 159 pusat data dengan konsumsi 2.378 GWh; Jawa-Madura-Bali menyumbang 99% kapasi...
PINTU dan Ondo Perluas Akses Aset Tertokenisasi di Indonesia
PINTU gandeng Ondo Finance perluas akses aset tertokenisasi untuk investor Indonesia, dengan target ratusan...
Harga Emas Pegadaian: Galeri24 Stabil, UBS Naik Rp5.000
Galeri24 stabil di Rp2.545.000/gram, UBS naik Rp5.000 ke Rp2.575.000/gram pada 25 Sept 2026; rincian harga p...