IHSG Turun 0,60% ke 6.141,97 pada Akhir Sesi I — 29 Juli 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,60 persen pada level 6.141,97 pada akhir perdagangan sesi I, Rabu, 29 Juli 2026. Pelemahan sekitar 36 poin terjadi meski pembukaan sempat menunjukkan penguatan singkat. Sentimen pasar dipengaruhi sinyal kebijakan The Fed dan kinerja fundamental sektor perbankan.
Pergerakan dan data perdagangan
IHSG sempat menguat di pembukaan pagi pada level 6.141,16, namun penguatan itu bertahan singkat. Hingga jeda siang, aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi.
- Nilai transaksi: Rp 16,85 triliun
- Volume perdagangan: 26,8 miliar lembar
- Saham melemah: 461
- Saham menguat: 176
- Saham stagnan: 154
Proyeksi teknikal
Analis menilai IHSG berpotensi mengalami koreksi lanjutan namun terbuka peluang rebound teknikal jangka pendek. Dalam risetnya, Head of Retail Research BNI Sekuritas memberi level support dan resistance untuk acuan perdagangan hari ini.
"IHSG berpeluang untuk short-term teknikal rebound hari ini,"
Proyeksi perdagangan menempatkan support IHSG di kisaran 6.050–6.100 dan resistance pada rentang 6.170–6.230.
Saham unggulan dan rekomendasi
Beberapa saham mencatat kenaikan paling signifikan pada sesi I. Pilarmas Investindo juga mengeluarkan rekomendasi untuk satu saham yang menarik perhatian pasar.
- Top gainers: MGNA, DWGL, ECII, MTWI, KOPI
- Rekomendasi Pilarmas Investindo: ULTJ — BUY dengan support/resistance 1.350–1.450
Sentimen global dan implikasi bagi aliran modal
Ketua The Fed, Kevin Warsh, menilai kenaikan harga energi saat ini lebih banyak disebabkan oleh gangguan pasokan jangka pendek dibandingkan tekanan inflasi struktural. Namun pasar tetap waspada pada sinyal kebijakan moneter selanjutnya.
Ruang untuk kenaikan suku bunga masih terbuka; probabilitas kenaikan sempat mendekati 40 persen. Pernyataan lanjutan dari The Fed diperkirakan akan menjadi penentu aliran modal asing dan sentimen pasar global—yang berimbas pada Bursa Efek Indonesia.
Sektor perbankan sebagai penopang
Di tengah tekanan pasar, sektor perbankan melaporkan kinerja fundamental yang relatif solid sepanjang semester I-2026. Kinerja ini diharapkan dapat menjadi katalis penahan tekanan dan membantu stabilisasi gerak IHSG pada sesi perdagangan berikutnya.
Secara keseluruhan, IHSG berada di persimpangan antara sentimen eksternal dari kebijakan moneter global dan data fundamental domestik. Pelaku pasar akan menantikan pernyataan lanjutan dari The Fed serta data dan laporan emiten yang dapat mengarahkan pergerakan selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...