Nasional

Hari Kereta Api Nasional ke-81: Sejarah dan Perjalanan Kereta di RI

Bagikan:
Lokomotif tua sebagai simbol peringatan Hari Kereta Api Nasional dan sejarah perkeretaapian Indonesia

Hari Kereta Api Nasional ke-81 diperingati pada 28 September 2026 untuk mengenang pengambilalihan kantor pusat perkeretaapian dari Jepang setelah proklamasi kemerdekaan. Perayaan ini menandai tonggak penting pengelolaan kereta api oleh bangsa Indonesia dan perjalanan panjang perkeretaapian sejak era Hindia Belanda.

Jejak awal: pembangunan jalur pertama

Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai pada 1864 ketika perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) memulai pembangunan jalur pertama di Desa Kemijen, Semarang. Pencangkulan pertama dilakukan oleh Gubernur Jenderal L.A.J. Baron Sloet van de Beele.

Jalur pertama menghubungkan Semarang dan Tanggung sepanjang sekitar 25 kilometer dan diresmikan pada 10 Agustus 1867. Jalur ini menjadi dasar pengembangan jaringan yang kemudian meluas ke Surakarta dan Yogyakarta.

Perluasan jaringan dan fungsi ekonomi

Pada masa kolonial, kereta api berperan penting mengangkut hasil perkebunan dari pedalaman ke pelabuhan. Untuk memenuhi kebutuhan angkutan yang meningkat, pemerintah kolonial membangun jaringan tambahan melalui Staatsspoorwegen (SS).

Masa pendudukan Jepang dan pengambilalihan

Ketika Jepang menduduki Indonesia (1942–1945), pengelolaan perkeretaapian diambil alih oleh Rikuyu Sokyoku atau Dinas Kereta Api Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, para pekerja kereta api bergerak merebut kembali aset dan kantor yang masih dikuasai Jepang.

Puncaknya terjadi pada 28 September 1945 di kantor pusat perkeretaapian Bandung. Ribuan pekerja yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) berkumpul di Balai Besar Bandung dan berhasil mengambil alih kantor pusat tersebut. Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Nasional.

Pembentukan lembaga nasional dan transformasi

Beberapa hari setelah pengambilalihan, para pekerja mengadakan pertemuan di Bandung pada 30 September 1945 dan menyepakati pembentukan Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Seiring waktu, lembaga pengelola mengalami serangkaian perubahan nama dan status administratif:

  1. 1950: Djawatan Kereta Api (DKA)
  2. 1963: Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA)
  3. 1971: Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA)
  4. 1991: Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api)
  5. 1998: PT Kereta Api (Persero)
  6. 2010–sekarang: PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Informasi sejarah ini dapat ditelusuri lebih lanjut melalui laman resmi PT Kereta Api Indonesia.

Makna peringatan dan kondisi kini

Peringatan setiap 28 September tidak hanya mengenang keberhasilan pengambilalihan aset dari pendudukan Jepang, tetapi juga menegaskan peran pekerja kereta api dalam membangun institusi nasional. Perjalanan lebih dari satu setengah abad itu kini terlihat pada jaringan yang menghubungkan kota-kota besar dan menjadi tulang punggung transportasi massa di Indonesia.

Dengan perkembangan teknologi dan modernisasi layanan, tantangan dan peluang bagi perkeretaapian Indonesia tetap besar. Peringatan Hari Kereta Api Nasional menjadi momen refleksi sekaligus dorongan untuk terus meningkatkan layanan bagi publik.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait