Makna Tradisi Grebeg Besar di Keraton Surakarta saat Iduladha
Grebeg Besar di Keraton Surakarta berlangsung setiap menyambut Hari Raya Iduladha sebagai wujud syukur dan penjaga hubungan antara keraton dan masyarakat. Upacara ini menampilkan dua gunungan bernama Gunungan Jaler dan Gunungan Estri yang melambangkan unsur laki-laki dan perempuan dalam filosofi Jawa. Tahun ini acara digelar selama dua hari untuk menghormati warga yang merayakan Iduladha bersama keluarga.
Simbol dan isi gunungan
Kedua gunungan menjadi simbol sentral dalam prosesi. Tingginya bisa mencapai dua meter, dan saat dipanggul oleh abdi dalem tampak mencapai hampir tiga meter. Isi masing-masing gunungan berbeda dan merepresentasikan makna spiritual serta sosial.
- Gunungan Jaler: berisi hasil bumi mentah, termasuk Polo Pendem dan berbagai bahan pertanian yang tumbuh di dalam atau permukaan tanah.
- Gunungan Estri: berisi makanan kering siap saji dan jajanan tradisional yang melambangkan kelembutan rezeki.
Proses arak-arakan dan makna ritual
Prosesi dimulai dari keraton, kemudian kedua gunungan diarak ke Masjid Agung untuk didoakan, lalu kembali ke keraton. Setelah doa, masyarakat berebut mengambil makanan dan hasil bumi dari gunungan sebagai simbol pengalapan berkah.
"Untuk gunungan Jaler atau laki-laki itu berisi hasil bumi mentah, ya,"
"Kemudian untuk gunungan Estri atau perempuan biasanya berisi makanan kering siap saji atau jajanan-jajanan,"
Kanjeng Nuki, kerabat Keraton Surakarta, menjelaskan bahwa tradisi ini dimaknai sebagai bentuk syukur dan upaya memperkuat persatuan. Ia berharap prosesi doa dan pembagian berkah dapat kembali menumbuhkan rasa kebersamaan di kalangan warga.
Perubahan jadwal: dua hari untuk menghormati masyarakat
Tahun ini Grebeg Besar diperpanjang menjadi dua hari. Perubahan itu dimaksudkan untuk menghormati warga dan abdi dalem yang pada hari pertama merayakan Iduladha bersama keluarga. Dengan begitu, warga tetap memiliki kesempatan mengikuti upacara adat tanpa mengorbankan tradisi keluarga.
Secara keseluruhan, Grebeg Besar tidak hanya menampilkan ritus keagamaan, tetapi juga nilai kultural yang mengikat keraton dengan masyarakat. Tradisi ini terus dipertahankan sebagai bentuk akulturasi budaya Islam dan kearifan lokal Jawa yang diwariskan turun-temurun.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Equatorial Guinea, Satu-satunya Negara Afrika Berbahasa Spanyol
Equatorial Guinea adalah satu-satunya negara Afrika yang menjadikan bahasa Spanyol sebagai bahasa resmi, dip...
Hari UFO Nasional: Sejarah dan Makna Peringatan 21 Juli
Hari UFO Nasional diperingati tiap 21 Juli sejak 2019 untuk meningkatkan literasi antariksa dan mendorong ka...
Polri Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Pembiayaan PT PPA
Kortastipidkor Polri tetapkan tiga tersangka kasus korupsi pembiayaan PT PPA, merugikan negara sekitar Rp38,...
Empat Peringatan Penting pada 21 Juli 2026
21 Juli 2026 menandai empat peringatan penting: Hari Nasional Belgia, Pembebasan Guam, Kharchi Puja, dan Har...
20 Juli: Hari Catur, Lompat, Eksplorasi Ruang Angkasa, dan Hari Bulan
20 Juli diperingati untuk Hari Catur Internasional, Hari Lompat Sedunia, Hari Eksplorasi Ruang Angkasa, dan...
Parade Kebaya Pecahkan Rekor MURI, KOWANI Ajak Lestarikan Budaya
Parade perempuan berkebaya di Palembang memecahkan Rekor MURI; KOWANI mengajak pelestarian kebaya sebagai id...