Wamenkomdigi: Film 'Menang untuk Kalah' Jadi Medium Literasi Digital
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyatakan film dapat berperan sebagai medium literasi digital untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap bahaya judol dan pinjol ilegal. Pernyataan itu disampaikan saat audiensi dengan Indonesian Institute of Journalism dan tim produksi film Menang untuk Kalah pada 31 Agustus 2026, dan dikutip dalam keterangan resmi di Jakarta, 7 September 2026.
Film sebagai sarana edukasi yang efektif
Nezar menilai karya audiovisual punya kekuatan untuk menghadirkan masalah digital secara lebih dekat dan emosional. Ia mengatakan film dapat memperlihatkan proses seseorang terjerat praktik berbahaya, sehingga penonton tidak hanya mendapat informasi tetapi juga memahami konsekuensi nyata.
Dengan pendekatan dramatik, film memungkinkan isu teknis seperti modus operandi aplikasi ilegal dijelaskan melalui pengalaman tokoh dan keluarga mereka. Hal ini, menurut Nezar, memperkuat pesan pencegahan karena berdampak pada empati penonton.
Dampak terhadap korban dan lingkungan sosial
Dalam keterangan yang sama, Wamenkomdigi menekankan bahwa praktik pinjol ilegal sering memanfaatkan data pribadi dan profil pengguna untuk memberi tekanan kepada korban. Tekanan itu tidak berhenti pada peminjam, melainkan menyasar keluarga dan jaringan sosial mereka.
Masyarakat bisa melihat bagaimana seseorang masuk ke dalam masalah. Bagaimana tekanan berkembang, dan bagaimana dampaknya ikut dirasakan keluarga serta orang-orang di sekitarnya
Nezar juga menyoroti dampak psikologis yang dialami korban. Ia menilai beban psikologis dan beban finansial akibat bunga tinggi serta upaya pelecehan atau pemalakan dapat menghancurkan kehidupan personal dan sosial korban.
Para korban pinjol ilegal harus menerima tekanan psikologis yang besar dan tagihan dengan bunga tinggi, bahkan sampai dipermalukan di lingkungannya
Penayangan dan tim produksi
Film Menang untuk Kalah dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 November 2026. Produksi melibatkan penulis naskah Jujur Prananto, yang sebelumnya menulis untuk Ada Apa Dengan Cinta, dan sutradara Hasto Broto.
Wamenkomdigi menyambut baik pilihan mengangkat aspek keluarga sebagai fokus cerita. Menurutnya, menempatkan keluarga di pusat narasi membantu menjelaskan bagaimana praktik ilegal dapat merusak relasi dan jaringan sosial, sehingga pesan pencegahan menjadi lebih mudah dicerna oleh penonton luas.
Penyajian masalah judol dan pinjol ilegal lewat medium film diharapkan tidak hanya mengedukasi, tetapi juga mendorong tindakan pencegahan oleh publik dan pemangku kepentingan terkait.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mentan Tambah Alokasi SPHP 1 Juta Ton, Stok Beras Dipastikan Aman
Pemerintah tambah alokasi SPHP beras medium 1 juta ton dan hentikan impor beras pecah 380 ribu ton untuk men...
Kemensos Buka Jalur Kerja dan Pelatihan untuk Lulusan Sekolah Rakyat
Kemensos siapkan jalur kerja dan pelatihan bagi lulusan Sekolah Rakyat, disesuaikan minat dan potensi siswa,...
Mensos Minta Kepala Sekolah Perketat Pengawasan Sekolah Rakyat
Mensos Saifullah Yusuf minta kepala Sekolah Rakyat perketat pengawasan operasional, kebersihan, fasilitas, d...
Mensos: Pegawai Kemensos Terlibat Judi Online Akan Dikenai Sanksi
Mensos Gus Ipul pastikan pegawai Kemensos terindikasi judi online bakal disanksi; klarifikasi sekitar 1.900...
KCIC dan KAI Siapkan Kereta Alternatif Usai Erupsi Anak Krakatau
KCIC dan KAI buka layanan kereta alternatif setelah erupsi Anak Krakatau mengganggu penerbangan pada 7 Septe...
IDAI: Bahaya Abu Vulkanik bagi Anak, Gejala dan Cara Melindungi
IDAI mengingatkan orang tua agar melindungi anak dari abu vulkanik Anak Krakatau; kenali gejala dan lakukan...