Lokal

Disdikbud Apresiasi Festival Masak Kuah Beulangong Milad USK ke-65

Bagikan:
Suasana Festival Masak Kuah Beulangong di halaman AAC Dayan Dawood Banda Aceh saat Milad USK ke-65

Banda Aceh — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Besar menyampaikan apresiasi kepada Universitas Syiah Kuala (USK) yang menggelar Festival Masak Kuah Beulangong pada rangkaian Milad USK ke-65, Minggu (20/9), di halaman AAC Dayan Dawood, Banda Aceh. Kegiatan ini dinilai penting untuk menjaga dan memperkenalkan kuliner tradisional Aceh kepada generasi muda.

Apresiasi dari Disdikbud Aceh Besar

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Aceh Besar, Cut Jarita Susanti SPd, hadir sebagai salah satu juri bersama T Raden Sulaiman dan tiga juri lainnya. Ia menilai festival bukan sekadar lomba memasak, melainkan sarana edukasi budaya yang efektif.

Kuah beulangong merupakan salah satu warisan budaya Aceh yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018 dengan Nomor SK 264/M/2018 dan Nomor Registrasi REK/WBTB/2018/01/00010. Kegiatan seperti ini penting untuk mengenalkan proses pengolahan dan nilai sosial tradisi tersebut.

— Cut Jarita Susanti, Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Besar

Kuah Beulangong sebagai warisan budaya

Festival menyorot posisi kuah beulangong sebagai bagian dari warisan kuliner Aceh. Cut Jarita menekankan bahwa pengakuan resmi sebagai WBTb memberi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mewariskannya.

Kegiatan memperlihatkan tahap pengolahan tradisional, bahan baku khas, dan cara penyajian yang menjadi bagian dari identitas sosial komunitas Aceh Besar. Pendekatan ini membantu generasi muda memahami konteks budaya di balik hidangan.

Tujuan festival: edukasi dan pelestarian

Menurut Cut Jarita, tujuan kegiatan lebih luas daripada kompetisi kuliner. Festival ini menjadi ruang edukasi untuk menumbuhkan rasa cinta dan keterlibatan generasi muda dalam pelestarian tradisi kuliner.

Kami sangat mengapresiasi USK yang telah menghadirkan kegiatan seperti ini. Festival kuah beulangong bukan hanya soal kuliner, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar mereka mengenal, mencintai, dan ikut melestarikan warisan budaya Aceh.

— Cut Jarita Susanti

Harapan keberlanjutan

Cut Jarita berharap event serupa bisa dilaksanakan berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, mahasiswa, komunitas budaya, dan masyarakat luas. Ia menilai pendekatan kreatif dan edukatif akan membuat warisan kuliner terus hidup di tengah perkembangan zaman.

Perspektif USK

Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani SE MBA DBA, menyatakan festival ini merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-65 dan momentum memperkuat kebersamaan keluarga besar universitas. Ia menggarisbawahi peran semua unsur kampus, bukan hanya capaian akademik, dalam membangun institusi.

Berbicara tentang USK tidak hanya melulu soal capaian akademik semata. Lebih dari itu, universitas ini adalah tentang orang-orang hebat yang membersamainya.

— Prof. Mirza Tabrani, Rektor USK

Penutup: Festival Masak Kuah Beulangong di USK menunjukkan bagaimana institusi pendidikan dapat berperan aktif dalam pelestarian budaya. Ke depan, keterlibatan lebih luas dari institusi pendidikan, komunitas, dan generasi muda diharapkan dapat memastikan tradisi kuliner Aceh tetap dikenal dan diwariskan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait