Komisi VI Minta Industri Farmasi BUMN Tingkatkan Inovasi
Anggota Komisi VI DPR RI, Sturman Panjaitan, meminta penguatan tata kelola, sumber daya manusia, dan teknologi pada industri farmasi BUMN agar mampu bersaing dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor.
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja spesifik Komisi VI di Semarang pada Jumat, 10 Juli 2026. Kunjungan menyoroti keterbatasan kapasitas produksi dan penguasaan bahan baku obat di dalam negeri.
Sorotan kunjungan: fokus pada tata kelola dan kemandirian
Delegasi Komisi VI menilai penguatan manajemen menjadi langkah awal untuk meningkatkan peran BUMN farmasi. Dua perusahaan BUMN besar, Kimia Farma dan Bio Farma, disebut harus diposisikan lebih strategis sebagai penyedia obat nasional.
Sturman menekankan bahwa perusahaan yang telah berdiri lama seharusnya lebih dominan di pasar domestik dan regional jika manajemen dan teknologi diperkuat.
"Kimia Farma, Bio Farma sudah berdiri tahun 1800-an, artinya kalau berkembang secara wajar, harusnya sudah menguasai wilayah Indonesia bahkan mancanegara. Tapi faktanya masih sangat terbatas, inilah perlu manajemen jadi diatur,"
Hambatan utama: SDM, teknologi, dan biaya riset
Komisi VI mencatat keterbatasan kemampuan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia sebagai kendala utama. Kondisi ini menahan kemampuan inovasi dan skala produksi di dalam negeri.
Selain itu, pengembangan bahan baku obat memerlukan biaya tinggi dan waktu lama. Menurut Sturman, satu produk dapat menyerap dana hingga Rp1 triliun dan memakan waktu bertahun-tahun hingga siap diproduksi.
"Manajemen harus diatur, SDM-nya harus ditingkatkan dan mempunyai teknologi yang canggih. Karena lack of SDM, lack of technology, sehingga akan tidak bisa maju,"
Kebijakan dan dukungan riset yang diperlukan
Untuk mengatasi hambatan itu, Komisi VI mendorong adanya kebijakan fiskal dan nonfiskal yang mendukung riset dan pengembangan industri farmasi nasional. Dukungan pemerintah dinilai krusial agar investasi jangka panjang menjadi menarik bagi BUMN dan mitra industri.
Rencana jangka menengah juga perlu mencakup peningkatan kapasitas laboratorium, kerja sama riset, dan program pelatihan SDM agar adopsi teknologi menjadi lebih cepat.
Harapan dan implikasi
Sturman berharap Kimia Farma dan Bio Farma bisa menjadi tulang punggung penyediaan obat nasional. Penguatan kedua perusahaan diharapkan mengurangi ketergantungan impor bahan baku secara bertahap.
Jika rekomendasi tata kelola, peningkatan SDM, dan investasi teknologi dijalankan, industri farmasi BUMN berpotensi meningkatkan kemandirian pasokan obat dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Prabowo Minta BMKG Bantu Fiji dan Timor Leste Perkuat Mitigasi
Presiden Prabowo minta BMKG bantu Fiji dan Timor Leste perkuat mitigasi bencana; BMKG sudah kirim personel d...
Mentan Targetkan Perluas Ekspor Beras ke Sejumlah Negara 2026
Mentan Andi Amran targetkan perluasan ekspor beras 2026 ke Timor Leste, Filipina, Papua Nugini, Malaysia, di...
Wamenkes: Penanganan Korban Gempa NTT Dilakukan Secara Holistik
Wamenkes Dante mengatakan penanganan korban gempa NTT dilakukan holistik: prioritas ortopedi, operasi, dan d...
Anggota KPI Pusat 2026-2029 Dikukuhkan, Menkomdigi Tekankan 3 Pilar
Sembilan anggota KPI Pusat 2026-2029 dikukuhkan Meutya Hafid dengan penekanan pada tiga pilar: kualitas, pen...
Polda Metro Jaya Perkirakan 500 Massa Akan Demo di DPR
Polda Metro Jaya memperkirakan sekitar 500 massa akan berdemonstrasi di DPR pada 27 Agustus 2026; pengamanan...
Airlangga Dorong Ritel Masuk Pedesaan untuk Gerakkan Ekonomi
Airlangga mendorong ritel masuk pedesaan lewat Koperasi Merah Putih untuk menggerakkan ekonomi berbasis pert...