Evita Soroti Tumpang Tindih SNI dan ISPO, Khawatirkan Pekebun Kecil
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty meminta klarifikasi tentang pembagian fungsi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) agar tidak terjadi tumpang tindih sertifikasi dan audit. Pertanyaan itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Panja tentang Standardisasi Nasional dengan pakar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 8 September 2026. Ia juga mengangkat kekhawatiran soal beban biaya dan perlindungan bagi pekebun kecil serta integritas sistem data SI ISPO.
Pertanyaan soal tumpang tindih SNI dan ISPO
Evita menekankan perlunya pembagian fungsi yang jelas antara SNI dan ISPO. Tujuannya agar proses sertifikasi tidak menggandakan pekerjaan dan biaya bagi pelaku usaha.
Bagaimana pembagian fungsi yang tegas antara SNI dan ISPO agar tidak terjadi tumpang tindih standar sertifikasi dan audit? Kemudian apakah hasil sertifikasi SNI nantinya dapat langsung menjadi bagian daripada pembuktian kepatuhan terhadap ISPO?
Jika bukti dari satu sertifikasi dapat dipakai untuk memenuhi persyaratan lain, maka potensi efisiensi besar bisa tercipta. Namun hal ini harus dijelaskan agar tidak menimbulkan kekaburan regulasi dan inkonsistensi audit.
Perlindungan pekebun kecil dan beban biaya
Salah satu fokus Evita adalah bagaimana SNI disusun agar tetap memenuhi tuntutan internasional tanpa memberatkan pekebun kecil. Ia meminta desain standar yang sederhana, terjangkau, dan tidak memutus akses pekebun kecil ke rantai pasok.
Bagaimana desain SNI yang tetap memenuhi standar internasional tetapi sederhana, terjangkau, dan tidak menyebabkan perkebunan kecil tersingkir secara rantai pasok. Siapa nih yang harus menanggung biaya pemetaan, pendampingan, dan sertifikasinya?
Evita memetakan komponen biaya yang perlu mendapat perhatian. Pertanyaan kuncinya meliputi:
- Siapa menanggung biaya pemetaan lahan?
- Siapa pembiaya pendampingan teknis bagi pekebun kecil?
- Bagaimana mekanisme pembiayaan sertifikasi agar terjangkau?
Tanpa jawaban yang tegas, risikonya adalah semakin banyak pekebun kecil yang tersisih dari rantai pasok berkelanjutan.
Integrasi SI ISPO dan independensi verifikasi
Evita juga mendalami aspek teknis dan tata kelola data, khususnya integrasi Sistem Informasi Indonesian Sustainable Palm Oil (SI ISPO) dan independensi sistem verifikasi.
Pertanyaan yang diajukan meliputi penanggung jawab integrasi data, pembagian kewenangan antar kementerian dan lembaga, serta jaminan akurasi dan keamanan data. Kepastian atas hal ini penting untuk menjaga kredibilitas sistem sertifikasi dan hasil audit.
Komisi VII meminta penjelasan lanjutan dari pihak terkait agar rancangan dan pelaksanaan SNI sejalan dengan tujuan keberlanjutan tanpa mengorbankan akses dan kesejahteraan pekebun kecil. Rapat Panja akan menjadi forum untuk mendalami opsi teknis dan skema pendanaan sebelum rekomendasi final disusun.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...