BMKG: Erupsi Anak Krakatau Amplitudo Maksimum 19 mm
BMKG mengumumkan hasil pemantauan erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi Jumat, 4 September 2026 malam. Aktivitas terekam oleh stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan durasi sekitar 29 detik. Tidak ditemukan anomali pada rekaman kegempaan di sekitar waktu kejadian. BMKG juga mencatat bahwa erupsi berupa letusan strombolian dan hingga pemantauan berikutnya kolom abu tidak teramati.
Rekaman seismograf dan parameter erupsi
BMKG menyatakan data diperoleh dari rekaman stasiun seismograf yang memantau Anak Krakatau. Amplitudo maksimum tercatat sebesar 19 mm dengan durasi kurang lebih 29 detik. Menurut BMKG, tidak terdapat anomali pada rekaman seismik di sekitar waktu kejadian.
"Aktivitas erupsi terekam pada stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi sekitar 29 detik. Tidak ditemukan adanya anomali pada rekaman seismograf BMKG di sekitar waktu kejadian,"
Jenis erupsi dan pengamatan abu
BMKG melaporkan bahwa pola erupsi yang teramati bersifat strombolian. Ciri ini umumnya ditandai semburan material pijar relatif singkat dan berkala. Meski demikian, kolom abu akibat erupsi tidak terlihat dalam pengamatan BMKG pada momen itu.
Pemantauan muka air laut
Selain kegempaan, BMKG memantau kondisi muka air laut setelah erupsi. Hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 10.30 WIB, tidak terdeteksi kenaikan muka air laut yang signifikan. Pemantauan laut penting karena perubahan muka air bisa berdampak pada daerah pesisir di Selat Sunda.
Status gunung dan imbauan keselamatan
Saat ini Gunung Anak Krakatau tetap pada Status Level III (Siaga). Badan Geologi PVMBG Kementerian ESDM telah menetapkan status tersebut sejak 2 Juli 2026 dan catatan terakhir menunjukkan status masih berlaku. Laporan Badan Geologi juga menyebut rangkaian erupsi tipe strombolian berlanjut hingga 5 September 2026, dengan erupsi menerus, suara gemuruh, dan semburan pijar mirip lava fountain.
Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung dilarang memasuki kawasan radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api. BMKG meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dari lembaga terkait dan tidak menyebarkan kabar yang belum diverifikasi.
"BMKG akan terus memonitor kondisi ini secara real-time dan berkoordinasi dengan pihak terkait,"
"Tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu atau hoaks yang beredar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,"
Pemantauan bersama instansi terkait terus dilakukan untuk mengikuti perkembangan aktivitas Anak Krakatau. Hasil pemantauan ini juga menjadi dasar antisipasi terhadap potensi dampak pada masyarakat pesisir dan aktivitas penerbangan di wilayah dekat Selat Sunda.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...