Lokal

Medan Perkuat Edukasi dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Bagikan:
Ketua TP PKK Medan menerima audiensi tim peneliti USU di Rumah Dinas Wali Kota

Medan — Ketua Tim Penggerak PKK Kota Medan, Airin Rico Waas, menekankan pentingnya penguatan edukasi dan deteksi dini kanker payudara saat menerima audiensi tim Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Jumat (6/11). Audiensi membahas rencana penelitian berjudul Penguatan Sistem Kesehatan Untuk Meningkatkan Deteksi dan Diagnosis Dini Kanker Payudara di Kota Medan.

Audiensi dan rencana penelitian

Tim peneliti FK USU memaparkan tujuan penelitian untuk memperkuat sistem kesehatan lokal dalam mendeteksi dan mendiagnosis kanker payudara lebih awal. Rencana ini melibatkan kolaborasi antarinstansi dan penguatan peran komunitas.

Integrasi edukasi ke program masyarakat

Airin menyampaikan dukungan penuh dan mengusulkan agar edukasi kesehatan dimasukkan ke program-program rutin seperti Posyandu dan kegiatan komunitas. Ia menilai program yang sudah berjalan dapat menjadi wadah efektif untuk menjangkau masyarakat luas.

"Posyandu kita memiliki program rutin. Nantinya, kita bisa mengundang dokter untuk sekaligus memberikan edukasi tentang kanker payudara dan program kesehatan lainnya. Kalau ada kegiatan komunitas, para dokter juga bisa kita libatkan," kata Airin Rico Waas.

Strategi penyampaian dan materi edukasi

Airin menyoroti perlunya materi yang dikemas kreatif, ringan, dan menarik agar mudah diterima semua usia, terutama generasi muda. Ia juga menegaskan bahwa edukasi harus mencakup panduan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI), pengenalan gejala awal, dan langkah deteksi dini.

"Edukasi ini harus kita kemas dalam bentuk yang ringan dan menarik. Jangan sampai ketika masyarakat melihat kontennya, mereka justru langsung melewati karena penyampaiannya kurang menarik," ujar Airin.

Kolaborasi lintas sektor dan data penelitian

Perwakilan tim peneliti dari Program Studi Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer FK USU, dr. Ivana Alona, menyampaikan beberapa kendala utama: rendahnya kesadaran, stigma sosial, dan ketakutan terhadap diagnosis. Ia menekankan perlunya partisipasi berbagai pihak untuk mengatasi hambatan tersebut.

"Karenanya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan TP PKK, Posyandu, kader kesehatan, penyintas kanker, tokoh masyarakat, hingga dukungan dari keluarga sangat krusial," kata dr. Ivana Alona, MPH, Sp.KKLP.

Tim peneliti juga mengutip data kolaborasi USU dan SingHealth Duke-NUS Singapura sejak Mei 2025 yang menunjukkan sekitar 60 persen pasien kanker payudara datang ke fasilitas kesehatan pada stadium lanjut.

Pelibatan pemangku kepentingan

Untuk menjangkau lapisan masyarakat secara efektif, program yang direncanakan akan melibatkan:

  • kader PKK
  • kepala lingkungan (kepling)
  • kader Posyandu
  • penyintas kanker dan tokoh masyarakat
  • tenaga medis dan keluarga pasien

Langkah berikutnya adalah menyusun materi edukasi yang mudah diakses dan menjadwalkan kegiatan penyuluhan bersama Posyandu serta komunitas lokal. Integrasi kegiatan ini diharapkan mempercepat deteksi kasus lebih awal dan menurunkan angka pasien yang datang pada stadium lanjut.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait