Dari Kardus ke Harapan: Filosofi “Carthea” karya Faisal
Senin, 9 Juni 2026 — Seniman visual Faisal Darmawan menghadirkan konsep “Carthea”, karakter visual hasil eksplorasi kardus, dalam Art Talk & Workshop Session bertajuk "Carthea: From Cardboard to Hope" di Abeto Resto, Jakarta. Acara ini adalah bagian pameran tunggal Cardboard Room: Small Worlds Within dan mengangkat tema tentang harapan, perlindungan, serta pengalaman emosional manusia.
Filosofi di balik Carthea
Faisal menilai kardus bukan sekadar material untuk mengemas barang. Menurutnya, kardus sarat simbol: terlihat rapuh namun memegang peran penting sebagai penopang dan pelindung.
“Bagi saya, kardus adalah metafora kehidupan. Ia terlihat sederhana, bahkan sering diabaikan, tetapi memiliki peran penting untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang bernilai,” ujar Faisal.
Daripada menjadi objek pasif, kardus di tangan Faisal berubah jadi medium naratif. Dari sinilah lahir Carthea, karakter yang menyimpan berbagai lapis emosi dan pengalaman yang terbuka untuk interpretasi.
Rangkaian kegiatan dan proses kreatif
Sesi yang dipandu James Luhulima menampilkan pembahasan proses kreatif, teknik, dan makna di balik bentuk visual Carthea. Selain Artist Talk, acara juga memberi ruang praktik bagi peserta.
- Mini Workshop & Painting Session — peserta mengeksplorasi ide dengan cat akrilik dan dukungan material dari Daler-Rowney.
- Sharing Session — presentasi karya terpilih yang memicu dialog antara seniman dan peserta mengenai inspirasi serta makna.
- Kunjungan bersama ke Meiro Gallery Jakarta untuk melihat karya pameran secara menyeluruh.
Dalam praktiknya, peserta diajak mengolah kardus menjadi struktur dan tekstur yang kemudian diberi cat. Kegiatan ini menekankan bahwa bahan sederhana mampu menjadi sarana ekspresi kuat.
Dampak dan makna bagi publik
Lewat Carthea, Faisal ingin menciptakan ruang refleksi. Karakter tersebut tidak mengikat pada satu cerita, melainkan menjadi medium agar audiens menemukan pengalaman personalnya sendiri.
Hasil diskusi dan karya peserta menunjukkan bahwa transformasi material sederhana bisa membuka wacana tentang perlindungan emosional, harapan, dan nilai yang sering luput diperhatikan.
Penutup
Pameran dan rangkaian program ini mempertegas bahwa seni tidak selalu memerlukan bahan mewah. Dari selembar kardus sederhana, muncul narasi visual yang mengajak publik merenung — tentang rapuhnya wujud namun kuatnya makna yang tersimpan di dalamnya.
Berita Terkait
ADV Riders Bandung Gelar Ibadah Kurban di Cililin 2026
ADV Riders Bandung melaksanakan ibadah kurban di Saung Arsha, Cililin pada 30 Mei 2026 sebagai wujud kepedul...
Rupiah Melemah Bikin Turis Mancanegara Berlibur Lebih Lama
Pelemahan rupiah membuat wisatawan asing memperpanjang liburan di Indonesia, tapi warga lokal menunda perjal...
5 Juni: Hari Lingkungan Hidup dan Melawan Penangkapan Ikan Ilegal
Setiap 5 Juni diperingati Hari Lingkungan Hidup dan Hari Melawan Penangkapan Ikan Ilegal sebagai pengingat p...
Jakarta Jadi Provinsi Percontohan Layanan Terpadu Perempuan dan Anak
Jakarta ditunjuk sebagai provinsi percontohan layanan terpadu perlindungan perempuan dan anak berdasarkan Pe...
Haraku Ramen Luncurkan Premium Raishi: Mix Sesukamu, Pasti Nikmat!
Haraku Ramen luncurkan Premium Raishi: menu rice bowl yang bisa dikustomisasi, pilih nasi, sup, dan topping...
Bali Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Renang Air Terbuka Asia 2026
Indonesia akan gelar Kejuaraan Renang Air Terbuka Asia ke-12 di Jimbaran, Bali, 13–15 Juni 2026 untuk dorong...