BNPB: Jarak Pandang Hambat OMC, 1.212 Ha Karhutla di Kalimantan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat belum dapat dilaksanakan karena jarak pandang sangat rendah di wilayah tersebut. Kondisi ini juga membuat penggunaan operasi udara dan alutsista berisiko, sehingga prioritas penanganan saat ini difokuskan pada operasi darat.
Kendala operasi udara dan ketersediaan bibit awan
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan jarak pandang di beberapa titik Kalimantan Barat berada di bawah 1.000 meter. Kondisi itu dianggap membahayakan keselamatan penerbangan sehingga semua aktivitas udara untuk OMC ditunda.
"Jadi, memang di Kalimantan Barat ini kami tidak melakukan operasi udara mengingat visibility atau jarak pandang di sana sangat rendah, yakni di bawah seribu. Maka kita juga tidak berani untuk mengoperasikan alutsista (alat utama sistem senjata) yang sudah ada di sana,"
Selain masalah visibilitas, BNPB juga menghadapi keterbatasan bibit awan di atmosfer wilayah tersebut. Kekurangan partikel awan membuat pelaksanaan OMC kurang optimal meski kondisi cuaca memungkinkan.
Data luas terbakar dan upaya pemadaman
Berdasarkan data yang dihimpun BNPB per hari ini untuk wilayah Kalimantan yang meliputi enam provinsi, tercatat 1.212 hektare lahan terbakar. Dari angka itu, sekitar 1.200 hektare telah berhasil dipadamkan melalui kombinasi operasi darat dan udara di wilayah lain Kalimantan.
Pemerintah mengerahkan 14.759 personel satuan tugas darat untuk melanjutkan pemadaman pada sisa titik api. Luas lahan yang masih dilaporkan terbakar sekitar 11,74 hektare menurut data penanganan BNPB.
Tantangan lahan gambut dan pengaruh angin
Berton mengingatkan bahwa karakteristik lahan gambut menuntut penanganan khusus. Api pada lahan gambut bisa tetap menyala di bawah permukaan meski tampak padam dari atas. Dalam beberapa lokasi, kedalaman gambut mencapai 2–4 meter, sehingga upaya pemadaman harus ekstra keras.
"Karakteristik lahan gambut perlu penanganan yang ekstra, sebab jika dilihat kondisinya di permukaan apinya sudah padam, dari dasarnya belum tentu padam. sebab lahan gambutnya ini di bawahnya saja bisa mencapai 2-4 meter, sehingga Satgas Darat harus berusaha lebih untuk memadamkan apinya,"
Selain itu, kondisi cuaca dan kecepatan angin memengaruhi penyebaran api. Angin kencang dapat mempercepat perambatan api ke vegetasi kering di sekitar titik terbakar, sehingga pengawasan dan operasi darat harus lebih intensif di hari-hari berangin.
BNPB menegaskan penanganan karhutla di Kalimantan Barat akan berlanjut dengan fokus pada pengerahan personel darat dan teknik pemadaman khusus untuk lahan gambut, sampai kondisi cuaca memungkinkan operasi udara dan OMC kembali diaktifkan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dirjen: Penerapan SMK PAU Kunci Tekan Kecelakaan Bus
Dirjen Hubdat tegas: perusahaan bus wajib terapkan SMK PAU untuk tekan kecelakaan, tingkatkan kompetensi, da...
BMKG: Puncak Musim Hujan Diprediksi Desember 2026–Februari 2027
BMKG memprediksi musim hujan 2026–2027 datang lebih lambat, puncak hujan terjadi Desember 2026–Februari 2027...
Jasad Terjebak di Kamar KM Virgo, Evakuasi Terkendala Arus
Tim SAR menemukan banyak jasad terjebak di kamar KM Virgo; evakuasi terhambat arus dan visibilitas buruk, 18...
Wihaji: Banjir Informasi Digital Bisa Ganggu Kesehatan Mental Remaja
Menteri Wihaji mengingatkan remaja waspadai banjir informasi digital yang dapat memengaruhi algoritma, pola...
Wihaji Soroti 3 Ancaman Remaja: Seks Pranikah, Pernikahan Dini, Napza
Wihaji tekankan peran Duta GenRe dalam mencegah seks pranikah, pernikahan dini, dan penyalahgunaan napza pad...
Adujaknas 2026: Duta GenRe Wajib Punya Karya Nyata
Adujaknas 2026 menegaskan duta remaja wajib memiliki karya nyata yang telah diterapkan di daerah dan diprese...