Nasional

Bisindo vs SIBI: Perbedaan Bahasa Isyarat di Indonesia

Bagikan:
Ilustrasi komunikasi bahasa isyarat antara dua orang

Hari Bahasa Isyarat Internasional yang diperingati setiap 23 September menjadi momen untuk menyorot hak komunikasi masyarakat Tuli di Indonesia. Pada 2026, World Federation of the Deaf mengusung tema "Declaring Deaf People’s Human Rights", menekankan pentingnya pengakuan dan akses bahasa isyarat nasional.

Inti perbedaan Bisindo dan SIBI

Di Indonesia ada dua sistem bahasa isyarat yang dikenal luas: Bisindo dan SIBI. Keduanya berbeda dalam asal, fungsi, dan penggunaannya. Bisindo berkembang secara alami dari interaksi komunitas Tuli di berbagai daerah. Sebaliknya, SIBI lebih sering dipakai sebagai alat bantu komunikasi di lingkungan pendidikan tertentu, khususnya sekolah luar biasa.

Perbedaan ini penting karena kedua sistem bukan sekadar variasi gaya; mereka memiliki struktur dan tata bahasa yang berbeda sehingga tidak dapat dipertukarkan begitu saja.

Perbedaan utama

  • Asal: Bisindo tumbuh organik dalam komunitas, SIBI dikembangkan untuk kebutuhan pendidikan.
  • Fungsi: Bisindo berperan sebagai bahasa komunikasi alami; SIBI lebih diarahkan sebagai alat pengajaran dan transliterasi ke bahasa lisan/tertulis.
  • Penerimaan: Pengguna Bisindo kerap lebih luas di komunitas Tuli, sementara SIBI umum di institusi pendidikan khusus.

Bahasa isyarat bukan sekadar gesture

Bahasa isyarat memiliki kosakata, tata bahasa, dan struktur yang berkembang sendiri. Penguasaan beberapa tanda sederhana tidak otomatis membuat orang dapat berkomunikasi efektif. Diperlukan pembelajaran tentang kosakata, tata bahasa, dan konteks budaya tiap bahasa isyarat.

Secara global, WFD mencatat lebih dari 200 bahasa isyarat nasional. Sama seperti perbedaan American Sign Language (ASL) dan British Sign Language (BSL) meski kedua negara menggunakan bahasa Inggris, perbedaan antar bahasa isyarat adalah hal yang lumrah.

Variasi dan dokumentasi

Selain Bisindo dan SIBI, Indonesia masih memiliki variasi bahasa isyarat lokal yang tersebar di berbagai wilayah. Dokumentasi variasi ini penting untuk melestarikan keberagaman dan memastikan akses pendidikan serta informasi bagi masyarakat Tuli.

Akses, kebijakan, dan peran masyarakat

Pemenuhan hak masyarakat Tuli membutuhkan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, dan keterlibatan masyarakat luas. Partisipasi langsung komunitas Tuli dalam perumusan kebijakan juga krusial agar solusi yang dihasilkan sesuai kebutuhan nyata.

"Declaring Deaf People’s Human Rights"

Memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional merupakan kesempatan untuk mengakui bahasa isyarat sebagai bahasa alami dan mendorong kebijakan yang menjamin akses komunikasi, pendidikan, dan layanan publik bagi masyarakat Tuli.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait