Politik

Banyuwangi Batik Festival 2026: OJK Dukung Pelestarian Motif Lokal

Bagikan:
Peragaan busana batik Banyuwangi di BBF 2026 menampilkan motif Sabuk Mangir Latar Ukel

BANYUWANGI — Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2026 digelar di Gesibu Blambangan pada Sabtu malam, 7 November 2026, dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Festival tahun ke-14 ini menampilkan puluhan busana karya 16 pembatik lokal dan bertujuan melestarikan motif tradisional sekaligus menguatkan industri batik daerah.

Festival dan motif unggulan

Pada BBF 2026 panitia mengangkat motif Sabuk Mangir Latar Ukel untuk menonjolkan filosofi lokal. Motif ini memadukan garis tegas Sabuk Mangir dengan liukan lembut Latar Ukel, yang merepresentasikan keseimbangan, perlindungan, dan keanggunan budaya Using.

Beragam rancangan dipamerkan, mulai dari gaun malam hingga busana kontemporer siap pakai dan pakaian formal. Para desainer membuktikan motif tradisional dapat diolah menjadi produk fashion modern tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Upaya pelestarian dan penguatan industri

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa BBF bukan sekadar peragaan busana, melainkan upaya berkelanjutan menjaga warisan batik agar tetap hidup dan relevan.

Melalui festival ini, kita ingin motif-motif batik Banyuwangi terus dikenal, diwariskan, dan dikembangkan

Selain pelestarian budaya, pemerintah daerah mendorong penguatan industri dengan penggunaan batik lokal di sekolah dan instansi, pengenalan di jalur pendidikan, serta membuka ruang promosi dan pemasaran bagi perajin.

Batik bukan hanya warisan budaya yang harus kita jaga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi masyarakat

Dampak bagi perajin lokal

Perajin melaporkan dampak positif penyelenggaraan BBF terhadap pemasaran dan pertumbuhan usaha. Firman Syauqi dari Godho Batik, yang ikut sejak BBF pertama pada 2013, mengatakan festival membuka peluang pasar lebih luas.

Festival ini memberikan ruang promosi yang sangat berarti bagi perajin lokal

Firman menyebut usahanya kini mampu menjual hingga 750 kain per bulan dengan harga antara Rp100 ribu hingga Rp5 juta per kain. Produknya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan ke mancanegara.

Menurutnya, ekosistem lokal juga tumbuh melalui kebijakan penggunaan batik, program edukasi, dan upaya regenerasi pembatik. Jumlah pembatik terdaftar dalam asosiasi kini meningkat menjadi lebih dari 60 orang.

Regenerasi lewat pendidikan

Regenerasi pembatik juga didorong melalui jalur pendidikan. Fiki Dwi Cahyono dari Serupa Batik, yang juga mengajar di SMKN 2 Tegalsari, memaparkan peran sekolah kejuruan dalam menyiapkan tenaga terampil.

Pembatik di Serupa Batik sebagian besar merupakan alumni SMKN 2 Tegalsari. Mereka memperdalam ilmu yang didapat di sekolah dan setelah berpengalaman sebagian mengembangkan usaha sendiri

Sementara itu, pelaku baru seperti Dani Rusdian dari Batikan mengaku tertarik menekuni batik sejak 2021 setelah melihat peluang pasar dan dukungan dari pemerintah serta masyarakat.

Warisan motif dan kolaborasi

Sejak awal penyelenggaraan, BBF konsisten mengangkat beragam motif khas Banyuwangi untuk menjaga keberlanjutan budaya. Beberapa motif yang pernah dipamerkan antara lain:

  • Gajah Oling
  • Kangkung Setingkes
  • Paras Gempal
  • Sekar Jagad Blambangan
  • Kopi Pecah
  • Gedhegan
  • Blarak Sempal
  • Sisik Blambangan
  • Sembruk Cacing
  • Jenon
  • Wader Kesit

Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dengan OJK Jember pada BBF 2026 diharapkan semakin mengokohkan pengembangan industri kreatif berbasis potensi lokal. Festival ditutup dengan penampilan musisi Hanin Dhiya yang menghibur ribuan pengunjung.

Prospek: Perpaduan promosi, pendidikan, dan dukungan kelembagaan menjadi kunci agar batik Banyuwangi tidak hanya lestari sebagai identitas, tetapi juga menjadi produk unggulan yang meningkatkan kesejahteraan pembatik dan perekonomian lokal.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait