Bahasa Daerah Terancam, Kemendikbud Dorong Integrasi ke Dunia Digital
Depok, Jawa Barat. Kementerian Pendidikan mendorong penerapan bahasa daerah dalam pembelajaran sehari-hari dan integrasi ke teknologi digital setelah memperingatkan banyak bahasa adat Indonesia berisiko punah.
Peringatan di Festival Bahasa Ibu 2026
Peringatan itu disampaikan Deputi Menteri Pendidikan untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, pada Festival Bahasa Ibu Nasional 2026 yang digelar di Depok, 22-26 Mei. Ia menekankan bahasa daerah harus digunakan aktif oleh generasi muda, bukan sekadar tersimpan di buku atau kurikulum formal.
"Jika bahasa daerah hanya ada di buku atau ruang kelas tanpa digunakan dalam kegiatan belajar sehari-hari, lama-kelamaan akan menjadi kenangan masa lalu," kata Atip.
Kenapa Bahasa Daerah Terancam?
Pertumbuhan urbanisasi, tekanan globalisasi, dan dominasi bahasa nasional serta bahasa asing mendorong penurunan penggunaan bahasa lokal. Pemerintah menilai pembatasan bahasa daerah pada konteks formal sekolah tidak cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
Data Kondisi Bahasa-di Indonesia
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melaporkan ada 718 bahasa daerah di Indonesia per 2024, dengan tingkat keamanan yang berbeda-beda.
| Status | Jumlah |
|---|---|
| Aman | 18 |
| Rentan | 21 |
| Menurun | 3 |
| Terancam | 29 |
| Kritis | 8 |
| Punah | 5 |
Bahasa yang Hampir Punah
Beberapa bahasa daerah yang mendekati kepunahan disebutkan, terutama dari wilayah Nusa Tenggara Timur dan daerah lain.
- Retta (Nusa Tenggara Timur)
- Nedebang (Nusa Tenggara Timur)
- Meher
- Hulung
- Samasuru
- Saponi
Strategi Pelestarian: Sekolah hingga Teknologi
Pemerintah mengajak sekolah menggunakan bahasa daerah dalam pengajaran dan komunikasi harian agar anak-anak akrab sejak dini. Selain itu, Kemendikbud mendorong integrasi bahasa daerah ke dalam large language models dan aplikasi digital.
"Bahasa daerah juga harus masuk ke ekosistem AI agar terus dipakai generasi muda," ujar Atip.
Program revitalisasi mencakup pelatihan guru, pengembangan kurikulum, pendampingan sekolah, serta festival di tingkat sekolah dan provinsi.
Kegiatan Festival dan Suara Pelajar
Festival lima hari ini diikuti 137 peserta dari 36 provinsi yang mewakili 105 bahasa dan dialek. Acara menampilkan dongeng tradisional, lagu, dan pertunjukan kreatif dalam bahasa daerah.
"Dengan terus berbicara, kita ikut menjaga warisan budaya," kata Rahmi Oktavia, peserta sekolah menengah pertama yang membawakan lagu Onduo dari Riau.
Penutup: Tantangan dan Langkah ke Depan
Meski program pemerintah sudah menyasar berbagai lini, keberlangsungan bahasa daerah membutuhkan penggunaan aktif di rumah, sekolah, dan platform digital. Integrasi ke teknologi serta komitmen komunitas lokal akan menjadi kunci untuk mencegah lebih banyak bahasa adat hilang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...
Tahun Baru Mars 2026: Planet Merah Mulai Putaran Baru
Planet Mars resmi memasuki tahun baru pada 30 Sep 2026; satu tahun Mars setara sekitar 687 hari Bumi dan ter...
Crew-13 Meluncur ke ISS, Empat Astronot Gabung Ekspedisi 75
NASA dan SpaceX meluncurkan Crew-13 ke ISS pada 1 Oktober 2026; empat astronaut dijadwalkan bergabung dengan...
Teleskop Roman Tangkap Cahaya Pertama dari Awan Magellan Besar
Nancy Grace Roman lulus uji pandu presisi dan Coronagraph-nya menangkap cahaya pertama dari Awan Magellan Be...
Kemkomdigi Perketat Pengawasan Ruang Digital, Takedown Konten Krusial 4 Jam
Kemkomdigi memperketat pengawasan ruang digital dengan takedown konten krusial maksimal 4 jam dan mengajak p...
Keuntungan dan Risiko Investasi Emas, Harga Terbaru
Harga emas Pegadaian terkoreksi 29 Sept 2026; emas tetap jadi pilihan lindung nilai namun punya risiko seper...