Kesehatan

IDAI: Bahaya Asap Karhutla bagi Pernafasan Anak

Bagikan:
Anak memakai masker saat terkena kabut asap karhutla

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan pernapasan anak. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Minggu, 27 September 2026, seiring naiknya paparan partikel halus yang berisiko memperburuk kondisi anak.

Risiko kesehatan dan kelompok rentan

Ketua UKK Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, menekankan partikel halus PM2.5 dari asap karhutla berbahaya bagi anak. Partikel ini dapat menembus saluran napas dan meningkatkan risiko infeksi serta eksaserbasi penyakit kronis.

“PM2.5 dari asap karhutla dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding sumber lainnya. Karena itu, orangtua perlu melindungi anak dari paparan asap untuk mencegah gangguan kesehatan pernapasan selama karhutla,” kata Wahyuni Indawati dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu, 27 September 2026.

IDAI menyoroti anak dengan asma, penyakit paru kronis, kelainan jantung bawaan, dan riwayat displasia bronkopulmonal sebagai kelompok paling rentan terhadap perburukan saat terpapar asap.

Langkah perlindungan untuk anak

IDAI memberikan rekomendasi praktis bagi orangtua dan pengasuh untuk meminimalkan paparan anak terhadap asap. Langkah sederhana bisa mengurangi risiko gangguan pernapasan.

“Orangtua perlu rutin memantau kualitas udara melalui ISPU atau AQI selama musim karhutla berlangsung di wilayahnya. Siapkan ruang bersih, tutup pintu dan jendela, serta batasi aktivitas fisik berat anak di luar rumah,” ucap Wahyuni.

  • Pantau kualitas udara dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau AQI.
  • Siapkan ruang bersih di dalam rumah; tutup pintu dan jendela saat kualitas memburuk.
  • Batasi aktivitas fisik berat di luar rumah, terutama bagi anak rentan.
  • Gunakan masker untuk anak berusia 2 tahun ke atas bila harus keluar rumah.
  • Pastikan obat rutin untuk anak dengan asma atau penyakit kronis selalu tersedia.

Aturan pembelajaran berdasarkan ISPU

IDAI merekomendasikan pembelajaran disesuaikan dengan tingkat ISPU harian. Ketentuan ini bertujuan menjaga keselamatan siswa selama episode kabut asap.

  • ISPU 0–100: Kegiatan tatap muka normal.
  • ISPU 101–200: Pembelajaran tatap muka dibatasi.
  • ISPU 201–300: Seluruh peserta didik wajib belajar jarak jauh.
  • ISPU > 300: Semua kegiatan pembelajaran dilaksanakan jarak jauh hingga kualitas udara membaik.

“Jika ISPU melebihi 300 atau masuk kategori berbahaya, seluruh kegiatan pembelajaran harus dilaksanakan secara jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh diterapkan hingga kualitas udara membaik dan kondisi dinilai kembali aman bagi seluruh peserta didik,” ucap Piprim.

Seruan kolaborasi

IDAI mengajak orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah memperkuat kerja sama untuk melindungi anak selama musim karhutla. Kolaborasi dinilai penting agar langkah pencegahan dan respons kesehatan berjalan serentak.

“Kami mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam melindungi anak-anak Indonesia dari bahaya asap karhutla. Pantau kualitas udara secara berkala dan pastikan anak-anak tetap aman dan sehat,” kata Wahyuni.

“Kesehatan anak harus menjadi prioritas utama, sehingga orangtua jangan ragu membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Segera periksakan anak apabila muncul sesak napas, batuk berkepanjangan, atau penurunan kesadaran akibat paparan asap karhutla,” kata Piprim.

Dengan pemantauan kualitas udara dan langkah perlindungan sederhana, IDAI berharap risiko gangguan pernapasan pada anak dapat diminimalkan selama musim kebakaran hutan dan lahan.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait