Mendukbangga: 25% Anak Indonesia Kehilangan Peran Ayah
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji
Data dan temuan utama
Wihaji menyebut penelitian yang menjadi acuan menunjukkan satu anak rata-rata menggenggam handphone delapan sampai sepuluh jam per hari. Angka ini dianggap berkontribusi pada gangguan psikososial ketika peran ayah tidak hadir.
"Kita ada Program Gemar, mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, rata-rata anak kita 25 persen itu fatherless.
Dan memiliki masalah mental, tetapi rata-rata mereka bisa memegang handphone setiap hari 8,7 sampai 10 jam,"
Program Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar)
Sebagai respons, Kemendukbangga menggaungkan Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar) ke sekolah. Program ini bertujuan mendorong keterlibatan ayah dalam keseharian anak, sehingga kehadiran ayah tidak hanya bersifat ekonomi tetapi juga emosional dan psikologis.
Dampak teknologi terhadap perkembangan anak
Wihaji mengingatkan bahwa peran ponsel saat ini sangat dominan dalam kehidupan anak. Ia memperingatkan bahaya ketika anak lebih sering berinteraksi dengan algoritma daripada dengan orang tua.
"Hari ini algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Algoritmanya yang ada dalam otak kita, kalau tidak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan kita, tetapi handphone,"
Imbauan praktis untuk orang tua
Wihaji mengajak para ayah untuk menciptakan waktu interaksi singkat namun rutin. Ia memberi contoh kegiatan sederhana yang dapat memperkuat ikatan ayah-anak, seperti mengantar anak ke sekolah dan meluangkan 30 menit hingga satu jam untuk berbicara.
"Ini yang penting bagaimana orang tua hadir. 1-2 jam saja, sempatkan. Saya sampai sekarang masih mengantarkan anak ke sekolah, nyetir sendiri karena minimal setengah jam sampai satu jam bisa ngobrol,"
Ia juga menyoroti pergeseran sumber curhat anak dari orang tua ke AI dan platform digital.
"Kalau dulu curhat sama orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Tanya apa saja, belajar berjudi ada di situ, dan dijawab padahal AI tidak punya rasa,"
Pendekatan yang diusulkan menekankan keterlibatan ayah secara psikologis. Jika praktik ini diikuti luas, diharapkan risiko masalah mental dan ketergantungan anak pada perangkat digital bisa berkurang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Penilaian 'Excess Capacity' Harus Berdasarkan Bukti
Mendag Budi Santoso minta penilaian 'excess capacity' dibuat berbasis bukti sektoral, dibahas dalam G20 TMM...
Pakar: Gugatan Syarat Pendidikan Wapres Seharusnya Ditolak MK
Pakar hukum menilai gugatan soal syarat pendidikan Wapres Gibran seharusnya tak dapat diterima MK karena sub...
Olivia Zalianty Harap Lagu Pancasila Perkuat Nilai Kebangsaan
Olivia Zalianty merilis lagu "Pancasila" untuk membantu masyarakat meresapi nilai negara melalui musik yang...
Kekeringan Meteorologis vs Hidrologis: Apa Bedanya?
BMKG jelaskan perbedaan kekeringan meteorologis dan hidrologis; 25 wilayah Jatim minta bantuan air hingga aw...
Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu
Kemenperin menyiapkan SDM lewat AKB 2026 untuk mengelola Pusat Logistik Industri Bambu, memperkuat rantai pa...
HUT ke-81 TNI: Pengendara Diminta Hindari Kawasan Cilangkap
Pengendara diimbau menghindari kawasan Mabes TNI Cilangkap pada Senin 5 Okt 2026 mulai pukul 06.00 WIB karen...