Nasional

Abdulrachman Saleh: Dokter Pendiri RRI dan Bapak Ilmu Faal

Bagikan:
Potret dr. Abdulrachman Saleh, dokter, penerbang, dan kepala RRI pertama

Abdulrachman Saleh adalah tokoh kunci di balik berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Ia lahir 1 Juli 1909 dan menjabat sebagai kepala RRI pertama sejak 11 September 1945 hingga 29 Juli 1947. Selain dokter, ia berperan sebagai pendidik, penerbang, dan perwira TNI AU sebelum gugur ketika pesawatnya ditembak pada 29 Juli 1947.

Latar belakang pendidikan dan organisasi

Abdulrachman menempuh pendidikan kedokteran di Geneeskundige Hogeschool (GHS) Batavia dan lulus pada 1937. Ia aktif dalam organisasi pergerakan seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan Kepanduan Indonesia. Minatnya pada dirgantara membawanya bergabung dengan klub penerbangan di Kemayoran.

Setelah lulus, ia menjadi dosen di Nederlands Indische Artsen School (NIAS) Surabaya dan di GHS Batavia. Ia juga memperdalam ilmu fisiologi, sehingga Universitas Indonesia menetapkannya sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia pada 1958.

Jejak di dunia radio

Ketertarikan Abdulrachman pada radio sudah dimulai jauh sebelum proklamasi. Pada 1934 ia mendirikan Vereniging voor Oosterse Radio-Omroep (VORO), perkumpulan radio kesenian ketimuran pertama di Indonesia, dan dipercaya memimpin VORO pada 1936.

Pengalaman itu dimanfaatkan saat proklamasi kemerdekaan untuk menyiapkan pemancar yang menyebarkan kabar kemerdekaan. Pemancar itu kemudian dikenal sebagai Siaran Radio Indonesia Merdeka.

Pendirian RRI dan rekomendasi ke pemerintah

Setelah penghentian siaran Radio Hoso Kyoku pada 19 Agustus 1945, keberadaan radio dinilai krusial bagi pemerintahan baru. Pada 11 September 1945 pukul 17.00 WIB, perwakilan delapan stasiun radio bertemu pemerintah di bekas gedung Raad Van Indje, Pejambon, Jakarta.

Abdulrachman hadir sebagai ketua delegasi dan mengajukan rencana pendirian radio milik Republik Indonesia. Tiga rekomendasi utama disampaikan kepada pemerintah:

  1. Membentuk Persatuan Radio Republik Indonesia (RRI) yang melanjutkan penyiaran dari delapan stasiun radio di Jawa.
  2. Mempersembahkan RRI kepada Presiden Soekarno sebagai alat komunikasi dengan rakyat.
  3. Mengusulkan agar hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui dr. Abdulrachman Saleh.

Pemerintah menyetujui dan pada malamnya perwakilan delapan stasiun menyepakati berdirinya RRI dengan Abdulrachman sebagai pemimpinnya.

Peran militer, tragedi, dan pengakuan

Abdulrachman berdinas di TNI Angkatan Udara dan pernah menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun (1946). Ia turut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang, serta mengajar di perguruan tinggi kedokteran di Klaten.

Pada 29 Juli 1947, dalam perjalanan pulang setelah mengambil bantuan obat di Singapura, pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpangi Abdulrachman dan rekannya, Adisutjipto, ditembak pesawat P-40 milik Belanda. Pesawat jatuh dan terbakar sebelum tiba di Maguwoharjo; keduanya gugur.

Keduanya menerima kenaikan pangkat anumerta, dan peristiwa itu diperingati sebagai Hari Bakti TNI AU sejak 1962. Pemerintah juga menetapkan dr. Abdulrachman Saleh sebagai Pahlawan Nasional melalui keputusan presiden pada 9 November 1974.

Warisan Abdulrachman menyatu dalam sejarah komunikasi publik Indonesia: seorang dokter, pendidik, penerbang, dan tokoh radio yang meletakkan fondasi RRI pada masa awal kemerdekaan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait