Politik

30 Tahun Tragedi Kudatuli: Kader PDIP Trenggalek Kenang Perjuangan

Bagikan:

Trenggalek — Kader PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek memperingati 30 Tahun Tragedi Kudatuli dalam renungan dan sarasehan di Kantor DPC, Minggu malam (26/7/2026). Acara itu menghadirkan saksi hidup yang berdiri di garis depan pada 1996, termasuk Gaguk Susilo Atmodjo, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Suruh. Mereka mengenang intimidasi, bentrokan fisik, dan pengorbanan kader yang berangkat ke Jakarta untuk membela kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.

Renungan 30 Tahun di Trenggalek

Acara yang digelar oleh pengurus partai setempat bertujuan mengingatkan generasi muda akan akar perjuangan PDI Perjuangan. Selain cerita saksi, diskusi menekankan pentingnya memahami sejarah politik nasional yang memengaruhi dinamika partai hingga kini.

Kesaksian Gaguk Susilo

Gaguk, salah satu kader senior, membuka memori pahitnya saat peristiwa Kudatuli. Ia menceritakan tekanan politik yang memuncak pada akhir Juli 1996 akibat dualisme partai antara PDI pimpinan Megawati dan PDI bentukan pemerintah.

"Iya, saya merasakan sendiri peristiwa Kudatuli. Bukan hanya intimidasi oleh aparat penguasa saat itu, tetapi juga sudah mengarah ke fisik."

Gaguk mengenang keputusan berangkat ke Jakarta pada 24 Juli 1996 bersama almarhum Akbar Abbas, Harjiyo, dan sejumlah kader lainnya. Mereka bergabung dengan aktivis dari Surabaya dan tokoh pergerakan untuk mempertahankan posisi Megawati di tengah ancaman pembubaran oleh pihak tertentu.

"Artinya apa? Saat itu, PDI bentukan Ibu Mega harus dilenyapkan. Inilah yang membuat kami terpanggil untuk membela,"

Perjalanan itu dilakukan dengan modal nekat. Kader sampai mengumpulkan uang dengan menjual barang berharga, menumpang truk, dan menanggung risiko besar demi menghadiri aksi dan menjaga keamanan tokoh partai.

Kronologi singkat dan Dampak

Insiden pada 27 Juli 1996 memicu bentrokan fisik di Jakarta, menelan korban, dan menyebabkan sejumlah aktivis hilang. Keluarga kader Trenggalek sempat hidup dalam kecemasan hingga diberi kabar selamat beberapa hari kemudian. Kenangan itu menjadi bagian penting narasi perjuangan lokal.

Pesan untuk Generasi Muda

Dalam penutupan, Gaguk menegaskan bahwa pengingatan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pelajaran sejarah. Ia mendesak agar pemuda PDIP terus memegang semangat perjuangan dan tidak melupakan akar yang membentuk partai hari ini.

"Tetapi setidaknya inilah perjalanan partai. Bahwasanya PDI Perjuangan itu berangkat dari sejarah. Jangan sekali-kali lupakan sejarah,"

Pesan itu menjadi penutup acara, sekaligus pengingat bahwa pengalaman masa lalu masih relevan untuk membentuk identitas dan strategi politik kader PDIP ke depan.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait