Ekonomi

70% Peserta UMKM BISA Ekspor Belum Pernah Ekspor, Transaksi Naik

Bagikan:
Menteri Perdagangan menyampaikan program UMKM BISA Ekspor dan capaian transaksi 2026

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan rata-rata 70 persen peserta UMKM BISA Ekspor belum pernah melakukan ekspor. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Pelatihan Gapai Pasar Global dengan AI bersama META di Kantor Kemendag, Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Menurut Budi, pelaku usaha yang belum pernah ekspor tetap berpeluang asal memenuhi standar kualitas dan kesinambungan pasokan.

Program penghubung ke pasar luar negeri

Program UMKM BISA Ekspor dirancang menghubungkan pelaku usaha dengan calon pembeli di luar negeri. Pelaku dapat mempresentasikan produk secara daring kepada perwakilan perdagangan Indonesia yang berada di negara tujuan.

Budi menjelaskan, Kemendag memiliki jaringan perwakilan untuk mendukung proses ini. Jaringan itu terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center atau ITPC.

"Kita itu ada 46 perwakilan Atase Perdagangan dan ITPC, Indonesia Trade Promotion Center, ya. Di 33 negara, jumlahnya 46 di 33 negara,"

Dukungan langsung untuk UMKM

Perwakilan perdagangan tidak hanya menjadi saluran presentasi. Mereka juga membantu mencari buyer dan memfasilitasi komunikasi bila diperlukan.

"Jadi kalau misalnya buyer-nya dari Taiwan, dari Jepang pakai bahasa mereka, ya Bapak/Ibu enggak usah khawatir. Karena nanti akan diterjemahkan oleh teman-teman kita yang mendampingi,"

Selain penerjemahan, pendampingan meliputi verifikasi calon pembeli dan penghubungan ke rantai pasok yang sesuai. Budi menekankan pentingnya menjaga kualitas produk agar dapat diterima di pasar internasional.

Tantangan kapasitas dan solusi kolaborasi

Budi mengingatkan bahwa sekalipun mendapatkan buyer, UMKM harus mampu memenuhi permintaan dalam jumlah dan kontinuitas. Ada kasus di mana pembeli meminta pasokan besar secara berkala.

"Produknya harus terus berkelanjutan karena ada juga UMKM bingung karena tidak dapat buyer, tapi ada yang bingung karena dapat buyer. Karena buyer-nya mintanya sebulan tiga kontainer, akhirnya Bapak/Ibu enggak bisa,"

Untuk mengatasi keterbatasan kapasitas, Budi menyarankan pelaku UMKM membangun kolaborasi produksi. Kerja sama antarpelaku usaha dapat menjadi solusi memenuhi pesanan bervolume besar.

Perkembangan transaksi 2026

Program ini juga menunjukkan kenaikan nilai transaksi pada 2026. Budi menyampaikan nilai transaksi periode Januari hingga Juli 2026 mencapai USD 333 juta, meningkat dibandingkan total transaksi sepanjang 2025 yang tercatat USD 134,8 juta.

"Nah tahun lalu transaksinya itu mencapai USD134,8 juta. Nah sekarang, Januari-Juli itu sudah mencapai USD333 juta,"

Dengan jaringan perwakilan yang luas dan pendampingan, Kemendag berharap lebih banyak UMKM yang bertransisi ke pasar ekspor. Peningkatan transaksi awal 2026 menjadi sinyal bahwa upaya ini mulai membuahkan hasil dan memberi kesempatan nyata bagi pelaku usaha kecil untuk berekspansi ke pasar global.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait