Tokoh Sumut Minta Porsi DBH Sawit Ditingkatkan di Era B50
MEDAN — Tokoh pemuda Sumatera Utara dan pendiri Masyarakat Melek Energi, Nugra Ferdino, mendesak pemerintah agar meningkatkan porsi Dana Bagi Hasil DBH Sawit bagi daerah penghasil sawit. Desakan itu disampaikan di Medan, Selasa 23 Juni, seiring dukungan terhadap program B50 yang digulirkan pemerintah sebagai upaya penguatan ketahanan energi nasional.
Dukung B50, namun tuntut keadilan fiskal
Nugra menyatakan mendukung penuh kebijakan B50 karena dinilai mampu mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat kemandirian energi. Namun ia memperingatkan agar manfaat kebijakan itu tidak terkonsentrasi pada pemerintah pusat dan industri saja.
Pemuda Sumatera Utara mendukung penuh program B50 karena mampu memperkuat kemandirian energi Indonesia. Tetapi pemerintah juga harus memperhatikan keadilan bagi daerah penghasil sawit.
Ia menyoroti besaran DBH Sawit yang saat ini hanya 4 persen, dan menilai angka tersebut belum mencerminkan kontribusi nyata daerah penghasil terhadap program nasional.
Beban daerah penghasil dan kebutuhan kompensasi
Nugra mengurai sejumlah konsekuensi yang ditanggung daerah penghasil sawit. Infrastruktur lokal, seperti jalan, mengalami kerusakan akibat mobilitas angkutan hasil perkebunan yang tinggi.
Daerah penghasil sawit menanggung berbagai konsekuensi pembangunan. Infrastruktur jalan rusak akibat tingginya mobilitas angkutan hasil perkebunan, kebutuhan layanan publik meningkat, tetapi manfaat fiskal yang diterima daerah masih sangat terbatas.
Selain itu, daerah juga menjadi basis hilirisasi sawit yang diarahkan sebagai sumber energi alternatif. Meski demikian, manfaat fiskal yang sampai ke daerah masih dianggap kurang proporsional.
Desakan evaluasi formula DBH
Nugra meminta pemerintah pusat dan DPR RI segera mengevaluasi formula pembagian DBH Sawit. Tujuannya agar porsi yang diterima daerah penghasil lebih layak dan sebanding dengan kontribusinya terhadap pembangunan nasional.
Kalau sawit menjadi tulang punggung program B50, maka daerah penghasil sawit harus mendapatkan manfaat yang lebih adil. Jangan sampai daerah hanya menjadi penonton ketika sawit menjadi instrumen strategis energi nasional.
Ia menegaskan bahwa tuntutan ini bukan sekadar soal anggaran, melainkan penghargaan negara terhadap daerah yang menopang agenda ketahanan energi nasional.
Ukuran keberhasilan B50 harus menyeluruh
Menurut Nugra, indikator keberhasilan B50 tidak cukup diukur dari pengurangan impor atau peningkatan serapan biodiesel. Harus ada penilaian sejauh mana manfaat ekonomi dapat dirasakan di daerah penghasil sawit.
Keberhasilan B50 harus menjadi keberhasilan bersama. Negara diuntungkan, industri diuntungkan, dan daerah penghasil sawit juga harus merasakan manfaat yang nyata.
Dengan begitu, kebijakan energi nasional dapat dinilai adil dan berkelanjutan bagi seluruh pihak yang terlibat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Investasi Nagan Raya: Kontributor Terbesar Aceh, Rp336 Miliar
Nagan Raya jadi penyumbang investasi terbesar Aceh: Rp336,18 miliar (Triwulan IV 2025) dan terus bertumbuh p...
Polres Padanglawas Sita Puluhan Slop Rokok Ilegal di Hasahatan Jae
Satreskrim Polres Padanglawas menggerebek rumah di Hasahatan Jae dan menyita puluhan slop rokok tanpa pita c...
Gebyar Patuh Pajak Medan 24-25 Juni: Samsat Keliling & Hadiah
Bapenda Medan gelar Gebyar Patuh Pajak 24-25 Juni di Centre Point Mall; layanan Samsat Keliling dan hadiah b...
Lamsihar Raih Magister Teknologi Informasi dengan IPK 4.00
Lamsihar Banjarnahor lulus MTI di Universitas Panca Budi Medan dengan IPK 4.00 setelah perjalanan hidup penu...
Polda Aceh Gelar Lomba Stand Up Comedy Sambut Hari Bhayangkara
Polda Aceh menggelar Lomba Stand Up Comedy bertema Polri Semakin Dicintai pada 22 Juni 2026 untuk merayakan...
Muhammad Nasir Ditunjuk Komisaris Utama Bank Aceh Syariah 2026–2030
Sekda Aceh Muhammad Nasir resmi ditetapkan Komisaris Utama PT Bank Aceh Syariah periode 2026–2030 dalam RUPS...