Sesar Aktif Melintasi Surabaya-Pasuruan-Bangkalan, Potensi M6,7
BMKG menyampaikan peta sumber gempa Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) yang diterbitkan 2024 menandai keberadaan sejumlah sesar aktif di Jawa Timur. Jalur patahan itu melintasi kawasan Surabaya, Pasuruan, hingga Bangkalan dan memiliki potensi magnitudo maksimum hingga M6,7. Informasi ini dimaksudkan untuk memperkuat mitigasi dan perencanaan, bukan untuk memprediksi waktu terjadinya gempa.
Pemetaan sesar di Jawa Timur
PusGen memetakan beberapa jalur patahan yang menjadi bagian dari pemetaan sumber dan bahaya gempa. Salah satu yang dicatat adalah Java Back-arc Thrust Surabaya, yang melintasi wilayah Surabaya dan dinilai berpotensi menghasilkan gempa hingga M6,7.
"Jalur patahan di Jawa Timur terlihat sebagai berikut. Terdapat sesar yang melewati wilayah Surabaya dengan nama Sesar Java Back-arc thrust Surabaya,"
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Plh Deputi Geofisika sekaligus Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena, saat menjelaskan peta pemetaan. BMKG menegaskan data ini bersifat ilmiah untuk dasar mitigasi dan perencanaan pembangunan.
Dua jalur sesar di Bangkalan
Bangkalan tercatat memiliki dua jalur sesar penting dalam peta tersebut. Kedua sesar itu diberi nama Sesar RMKS-Baliga dan Sesar RMKS-Somorkoneng, dengan potensi magnitudo berbeda.
- Sesar RMKS-Baliga — potensi magnitudo maksimum M6,7
- Sesar RMKS-Somorkoneng — potensi magnitudo maksimum M6,5
Meski nilai potensi magnitudo tampak besar, BMKG menekankan bahwa angka ini bukan indikasi bahwa gempa sebesar itu akan terjadi segera.
BMKG: data bukan alat prediksi waktu gempa
BMKG menegaskan hingga saat ini gempa bumi belum bisa diprediksi kapan, di mana, dan berapa besar secara akurat. Oleh karena itu, informasi tentang keberadaan sesar aktif harus dipahami sebagai dasar peningkatan kesiapsiagaan, bukan untuk menimbulkan kepanikan.
Informasi tentang potensi sesar di wilayah hunian perlu dijadikan acuan bagi masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi pribadi dan komunitas.
Dampak untuk perencanaan dan mitigasi
Pemetaan sumber dan bahaya gempa berperan penting dalam tata ruang dan perencanaan infrastruktur. Pemerintah daerah dan perencana dapat menggunakan peta ini untuk menentukan kawasan yang perlu perhatian lebih, serta menerapkan standar konstruksi tahan gempa pada daerah berisiko.
Dengan demikian, publik diminta memahami hasil pemetaan sebagai dasar ilmiah untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan gempa di masa depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...