Eri Irawan Luncurkan 'Sekolah Sampah' untuk Kurangi Beban TPA
SURABAYA — Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan, membuka program perdana “Sekolah Sampah” pada Sabtu, 23 Mei 2026. Program ini bertujuan mendorong warga memilah dan mengolah sampah dari rumah untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus meredam emisi gas rumah kaca.
Program dan materi edukasi
Pelatihan menggabungkan teori dan praktik. Peserta mendapat materi perubahan perilaku, teknik pengomposan, serta budidaya maggot untuk mempercepat penguraian sampah organik.
Eri juga membagikan fasilitas berupa puluhan tempat penampungan botol plastik dan komposter organik kepada peserta agar praktik pengelolaan sampah bisa langsung diterapkan di rumah.
"Masalah sampah harus diselesaikan berbasis sumber. Kalau masyarakat terbiasa memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah, beban TPA bisa jauh berkurang,"
Skala masalah dan fokus organik
Eri menjelaskan bahwa Kota Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari. Dari jumlah itu, hampir 60 persen merupakan sampah organik seperti sisa makanan dan limbah dapur.
Karena dominasi organik, program ini menekankan pengomposan dan pengolahan maggot sebagai solusi yang sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Pelibatan masyarakat dan integrasi sistem
Peserta edisi perdana terdiri dari sekitar 30 penggerak kampung: pengurus RT/RW, Karang Taruna, Kader Surabaya Hebat (KSH), dan pengurus majelis taklim.
Program dirancang untuk dilanjutkan dalam beberapa batch dengan target menjangkau sekitar 300 penggerak perubahan di kampung-kampung Surabaya.
- Pemilahan sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kertas.
- Integrasi dengan bank sampah, TPS3R, dan rumah kompos.
- Penerapan metode alami dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Dampak lingkungan dan harapan ke depan
Eri menekankan bahwa penanganan sampah di hulu berdampak pada mitigasi perubahan iklim. Penumpukan sampah organik yang tidak terkelola dapat menghasilkan metana (CH4), gas rumah kaca yang lebih kuat dalam memerangkap panas dibandingkan CO2.
Dengan membiasakan pemilahan dan pengolahan di tingkat rumah tangga dan komunitas, selain mengurangi volume TPA, program ini juga berpotensi memperkuat ekonomi sirkular di tingkat kampung.
Ke depan, Eri berharap Sekolah Sampah menjadi gerakan kolektif yang melahirkan budaya pengelolaan sampah mandiri dan menginspirasi penerapan sistem terintegrasi di wilayah lain.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Tiga Pilar Cup Ngawi Dongkrak UMKM dan Dukung Persinga
Turnamen Tiga Pilar Cup Ngawi menarik penonton, memasuki babak delapan besar, dan menggerakkan UMKM serta du...
Surabaya Abaikan Desil sebagai Acuan Bansos, Verifikasi Dilakukan Langsung
Pemkot dan DPRD Surabaya sepakat desil tak lagi jadi patokan bansos; verifikasi dilakukan lewat forum RT ter...
Puan Atur Pertemuan Prabowo–Megawati Bersama PDIP dan Gerindra
Puan Maharani akan mengatur pertemuan lanjutan antara Prabowo dan Megawati bersama PDIP dan Gerindra usai ku...
Sumenep Gelar Turnamen Sepak Bola Antar-SD 1 Oktober 2026
Pemkab Sumenep menggelar turnamen sepak bola antar-SD pada 1 Oktober 2026 untuk memetakan talenta lokal dan...
Surabaya Tetapkan Prioritas RAPBD 2027: Pendidikan, Kesehatan, Rutilahu
Pemkot Surabaya prioritaskan pendidikan, kesehatan, dan Rutilahu dalam RAPBD 2027 senilai Rp12,825 triliun u...
Prabowo Datangi Rumah Megawati untuk Takziah Guruh
Presiden Prabowo mendatangi kediaman Megawati pada 28/9/2026 untuk menyampaikan takziah atas wafatnya Guruh,...