Nasional

PuSGeN: 14 Segmen Megathrust Teridentifikasi di Peta 2024

Bagikan:
Ilustrasi peta sumber gempa dan zona megathrust di Indonesia

Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) memperbarui peta sumber dan bahaya gempa 2024 yang mencatat 14 segmen megathrust, 11 di antaranya berada di perairan Indonesia dan tiga segmen di Filipina yang tetap diperhitungkan karena berpotensi berdampak ke wilayah Indonesia. Pembaruan ini mengubah pemetaan sebelumnya dan menyertakan estimasi magnitudo maksimum untuk setiap segmen.

Pembaruan peta dan parameter yang diubah

Pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2024 mengubah jumlah segmentasi dari 13 (2017) dan 11 (2010) menjadi 14 segmen. Perubahan dilakukan setelah penilaian ulang geometri, pembagian segmen, nilai magnitudo maksimum, dan parameter pemodelan bahaya.

  • Memperbarui geometri dan segmentasi sumber gempa
  • Penetapan nilai magnitudo maksimum (Mmax)
  • Penyempurnaan parameter pemodelan bahaya gempa

Apa itu megathrust?

Ahli kebencanaan menjelaskan megathrust sebagai bagian dari zona subduksi, yakni bidang kontak saat satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya. Zona ini berpotensi menjadi tempat akumulasi tegangan tektonik dalam jangka panjang sebelum energi dilepaskan lewat gempa besar.

Zona ini berada pada bagian yang relatif dangkal. Dapat menjadi tempat akumulasi tegangan tektonik dalam waktu panjang sebelum energi tersebut dilepaskan melalui gempa besar.

— Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), dalam keterangannya, dikutip Minggu, 20 September 2026.

Estimasi magnitudo dan segmen yang perlu diwaspadai

Pemodelan PuSGeN menunjukkan beberapa segmen memiliki estimasi magnitudo sangat besar. Megathrust Aceh-Andaman diperkirakan mencapai M9,2, sedangkan Megathrust Jawa mencapai M9,1. Segmen lain seperti Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa bagian barat, Jawa bagian timur, dan Sumba memiliki estimasi hingga sekitar M8,9.

Daftar segmen (sebagian disebut dalam pemetaan)

Dalam pemetaan 2024, sejumlah segmen yang disebut antara lain:

  • Megathrust Aceh-Andaman (estimasi M9,2)
  • Megathrust Jawa (estimasi M9,1)
  • Mentawai-Siberut
  • Mentawai-Pagai
  • Enggano
  • Jawa bagian barat
  • Jawa bagian timur
  • Sumba
  • Palung Cotabato (Filipina)
  • Filipina Selatan (segmen)
  • Filipina Tengah (segmen)

Catatan: total ada 14 segmen dalam pemetaan; daftar di atas memuat segmen yang disebutkan secara eksplisit dalam pembaruan.

Seismic gap dan kesiapsiagaan

Beberapa kawasan, seperti Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, dikategorikan sebagai seismic gap—zona yang lama tidak mengalami gempa besar. BMKG menegaskan status ini bukanlah indikator bahwa gempa besar akan segera terjadi, tetapi menandai area yang perlu perhatian pada aspek kesiapsiagaan dan mitigasi.

Sejarah merekam gempa besar terakhir di Selat Sunda pada 1757 dan di Mentawai-Siberut pada 1797. Jeda waktu panjang itu menunjukkan variabilitas siklus gempa, sehingga tidak bisa digunakan untuk memprediksi waktu kejadian berikutnya secara pasti.

Implikasi ke depan

Pemutakhiran peta oleh PuSGeN mempertegas perlunya peningkatan kesiapsiagaan wilayah pesisir dan daerah yang berdekatan dengan zona subduksi. Data baru ini menjadi dasar bagi perencanaan mitigasi, pembangunan infrastruktur tahan gempa, dan penguatan sistem peringatan dini tsunami.

Para pemangku kepentingan disarankan menggunakan data terbaru untuk memperbarui kebijakan mitigasi dan program edukasi kebencanaan di daerah rawan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait