Rupiah Makin Tertekan, Ditutup di Rp17.952 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada level Rp17.952 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu, 24 Juni 2026. Rupiah turun tajam sebesar 0,52 persen atau sekitar 93 poin, terdorong oleh penguatan dolar AS akibat ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed.
Penurunan rupiah dan faktor pemicu
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan tekanan di pasar global. Pelaku pasar masih memfavoritkan mata uang safe-haven seiring potensi hambatan pada proses perdamaian antara AS dan Iran. Di sisi lain, data ekonomi AS yang akan datang turut menjadi fokus karena dapat memengaruhi arah suku bunga The Fed.
Ketidakpastian AS-Iran dan prospek kebijakan The Fed
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan dolar terhadap rupiah masih kuat karena ketidakpastian seputar isu-isu kunci terkait negosiasi internasional. Ia menyoroti sejumlah ganjalan, termasuk akses inspeksi nuklir dan dana Iran yang dibekukan.
"Ketidakpastian tetap ada mengenai isu-isu kunci. Termasuk masalah inspeksi nuklir dan akses dana Iran yang dibekukan," ujar Ibrahim dalam analisisnya.
Ibrahim juga mencatat pasar menilai peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada paruh kedua tahun ini semakin besar. Probabilitas kenaikan pada September dan Desember diperkirakan mencapai sekitar 70 persen, sehingga menambah tekanan pada mata uang negara berkembang.
"Pasar memprakirakan kenaikan suku bunga pada bulan September dan Desember, dengan probabilitas 70 persen," tambah Ibrahim.
Respons pasar domestik: MSCI dan paket stimulus
Di dalam negeri, respons pasar cenderung positif terhadap hasil tinjauan MSCI Market Classification Review yang tetap mempertahankan posisi Indonesia sebagai Emerging Market. Keputusan ini dipandang penting karena menjadi indikator persepsi investor asing terhadap pasar modal Indonesia.
"Hasil evaluasi MSCI dianggap penting karena dapat memberikan gambaran mengenai persepsi investor internasional terhadap pasar modal Indonesia," kata Ibrahim.
MSCI dijadwalkan menggelar penilaian kembali pada November 2026. Selain itu, pelaku pasar juga memperhatikan paket stimulus ekonomi yang disiapkan pemerintah untuk semester II 2026. Pemerintah berharap stimulus tersebut bisa meredam dampak rambatan global dan menjaga daya beli masyarakat.
Outlook
Ke depan, arah rupiah akan dipengaruhi gabungan faktor eksternal dan domestik: perkembangan negosiasi internasional, data inflasi AS seperti indikator Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), keputusan suku bunga The Fed, serta efektivitas paket stimulus lokal. Investor diperkirakan akan terus memantau ketiga aspek utama pasar modal—kualitas, keterbukaan, dan efisiensi—yang saat ini menjadi perhatian internasional.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KAI Bidik 1,4 Miliar Penumpang per Tahun dengan Empat Mesin Pertumbuhan
KAI menargetkan 1,4 miliar penumpang per tahun dan porsi bisnis non-farebox 20–25% sebagai bagian transforma...
Ekspor Minyak Atsiri Tembus USD348,7 Juta, Kemenperin Pacu Hilirisasi
Ekspor minyak atsiri Indonesia naik ke USD348,7 juta pada 2025; Kemenperin dorong hilirisasi untuk tambah ni...
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat hingga Rp17.840
BI pertahankan suku bunga 5,75%; rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 1...
Secure Parking Kelola 1.700 Titik, Hampir 2 Juta Kendaraan Sehari
Secure Parking mengelola 1.700 titik parkir di Indonesia dan melayani hampir 2 juta kendaraan setiap hari, d...
BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melemah 0,86% ke 6.394
IHSG turun 0,86% ke 6.394 pada 19 Agustus 2026 setelah BI mempertahankan suku bunga 5,75%; nilai transaksi R...
Pasokan Energi Jadi Prioritas Pertamina Pascagempa NTT
FKBI meminta pasokan BBM dan LPG jadi prioritas penanganan pascagempa NTT agar distribusi logistik dan aktiv...