IHSG Anjlok 3,56% ke 5.883,88 pada Penutupan 24 Juni 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Rabu, 24 Juni 2026, setelah anjlok 217,45 poin atau 3,56 persen ke posisi 5.883,88. Pelemahan dipicu oleh aksi jual seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi global dan evaluasi domestik yang belum tuntas.
Pergerakan pasar dan data perdagangan
IHSG sempat menguat di awal sesi hingga menyentuh 6.128,27, namun berbalik turun menuju level terendah hari ini pada 5.876,93 sebelum ditutup di zona merah. Pergerakan pasar didominasi aksi jual dengan 611 saham melemah, 98 saham menguat, dan 104 saham stagnan.
Aktivitas transaksi hari ini tercatat tinggi, dengan nilai perdagangan mencapai Rp15,16 triliun. Volume perdagangan mencapai 26,94 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 2,03 juta kali transaksi.
Sentimen eksternal: AS-Iran dan data PCE
Menurut Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan regional memengaruhi sentimen pasar. Bursa Asia bergerak bervariasi menyusul perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang sedikit mereda, mendorong penurunan harga minyak dunia.
Namun, pelaku pasar tetap fokus pada rilis data inflasi AS, yaitu PCE (Personal Consumption Expenditures) Price Index, yang dijadwalkan terbit Kamis waktu setempat. Data ini dianggap kunci bagi arah kebijakan moneter The Fed.
"Pelaku pasar masih mencermati data PCE AS yang akan menjadi salah satu acuan utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan,"
— Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas.
Sentimen domestik: MSCI dan evaluasi pasar
Dari dalam negeri, pasar merespons keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market. Namun, MSCI memperpanjang masa peninjauan terkait transparansi dan aksesibilitas pasar modal Indonesia hingga November 2026.
Pilarmas menilai perpanjangan peninjauan ini belum memberi kepastian penuh bagi investor dan membuka kemungkinan berbagai skenario evaluasi apabila reformasi yang diminta belum berjalan optimal.
- Keputusan MSCI: status tetap emerging market, peninjauan diperpanjang hingga November 2026
- Investor memilih strategi wait-and-see sambil menunggu hasil evaluasi dan data eksternal
Dampak dan prospek
Gabungan sentimen global dan domestik membuat investor cenderung menahan diri sehingga tekanan jual masih dominan. Akibatnya, IHSG menutup perdagangan akhir sesi di zona negatif.
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau rilis data inflasi AS dan perkembangan evaluasi MSCI. Kedua faktor ini dipandang krusial untuk menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa sesi mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Turun 1,62% ke 6.002,2, MSCI Beri Peringatan
IHSG ditutup di 6.002,2 pada sesi I, turun 1,62%. MSCI pertahankan status Emerging Market namun memberi peri...
Rupiah Dekati Rp18.000, Tertekan Penguatan Dolar AS
Rupiah melemah ke Rp17.960 pada 24 Juni 2026 dan kembali mendekati Rp18.000, terdorong penguatan dolar AS da...
IHSG Menguat ke 6.128, Pasar Cermati Status Indonesia di MSCI
IHSG dibuka di 6.128,27 pada 24 Juni 2026 setelah MSCI mempertahankan status Emerging Market, namun memberi...
IHSG Diprakirakan Masih Melemah Usai Pengumuman MSCI
IHSG berisiko melemah pada 24 Juni 2026 setelah pengumuman MSCI, dengan support 6.000 dan resistansi 6.200 s...
Kemendag Lepas Ekspor Baja Struktural ke Kanada Senilai Rp3,85 Miliar
Kemendag melepas ekspor fabrikasi baja struktural ke Kanada senilai USD216.000 (Rp3,85 miliar) dari Cilegon...
Prabowo Targetkan Tutup 700–800 BUMN hingga Akhir 2026
Presiden Prabowo menyatakan akan menutup 700–800 BUMN secara bertahap hingga akhir 2026 karena kinerja merug...