Ekonomi

Rupiah Tembus Rp17.966 per Dolar, Tertekan Konflik AS-Iran

Bagikan:
Grafik penurunan rupiah terhadap dolar AS ke level Rp17.966 pada penutupan perdagangan

Rupiah kembali terdepresiasi terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, menurun 0,71 persen atau 127 poin ke level Rp17.966 per dolar AS. Pelemahan dipicu oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan tekanan inflasi domestik.

Penutupan pasar dan angka akhir

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,71 persen pada akhir sesi perdagangan. Pelemahan ini mencerminkan sentimen risiko global yang meningkat dan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.

Faktor eksternal: eskalasi konflik AS-Iran

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelaku pasar masih memantau perkembangan di Timur Tengah. Meski ada laporan gencatan senjata parsial antara Israel dan Hizbullah, ketegangan antara AS dan Iran justru meningkat.

"Iran melakukan serangan ke basis militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sementara pasukan AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm di Iran," kata Ibrahim dalam analisisnya, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Ibrahim, kondisi ini menjauhkan prospek negosiasi damai antara AS dan Iran. Ketidakpastian tersebut mendorong lonjakan harga minyak, yang selanjutnya meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Faktor pasar keuangan dan ekspektasi suku bunga

Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak memicu spekulasi pasar terkait langkah bank sentral. Meski demikian, saat ini pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan bulan Juni.

Pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS pekan ini, antara lain:

  • Automatic Data Processing (ADP) terkait ketenagakerjaan
  • Survei jasa Institute for Supply Management (ISM)
  • Data pesanan pabrik
  • Data tenaga kerja non-pertanian atau non-farm payrolls akhir pekan

Faktor domestik: inflasi dan neraca perdagangan

Di dalam negeri, Ibrahim mencatat pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya inflasi pada Mei 2026, tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan. Kenaikan inflasi dipicu oleh naiknya harga pangan dan kenaikan harga yang diatur pemerintah, termasuk energi.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Mei 2026, namun nilainya menyusut dibanding bulan sebelumnya. Menurut Ibrahim, penyempitan surplus menandakan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal.

"Surplus yang menyempit menandakan adanya tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal. Penyebabnya karena tersendatnya pasokan global di Selat Hormuz yang masih diblokade oleh Iran," ujar Ibrahim menutup analisisnya.

Prospek ke depan

Pelemahan rupiah kemungkinan masih berlanjut jika ketegangan geopolitik memicu gangguan pasokan minyak lebih luas. Di sisi lain, data ekonomi AS dan perkembangan inflasi domestik akan menentukan arah pasar mata uang dalam beberapa pekan ke depan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait