Rupiah Melemah ke Rp17.883 pada Pembukaan Perdagangan
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,44 persen (78 poin) ke level Rp17.883 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya menguat 0,43 persen menjadi Rp17.805 per dolar AS.
Pembukaan pasar dan angka pembanding
Pergerakan awal pasar menunjukkan kejatuhan nilai tukar seiring penguatan dolar AS. Data pembukaan mengindikasikan tekanan jual pada rupiah sehingga level pembukaan bergerak signifikan turun.
Pendorong pelemahan: geopolitik dan data AS
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai risiko pelemahan masih besar. Menurut dia, penguatan dolar dipicu oleh perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS.
"Risiko tersebut disebabkan dolar AS yang menguat merespon pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS,"
- Lukman Leong
"Penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan,"
- Lukman Leong
Proyeksi pergerakan dan kondisi indeks dolar
Lukman memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.800–17.900 per dolar AS. Saat ini indeks dolar AS tercatat di level sekitar 99,20, yang turut menekan mata uang negara berkembang.
Senada, Jessica Tasijawa, Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, menilai tekanan eksternal masih tinggi. Dia mencatat sepanjang Mei 2026 rupiah terdepresiasi sekitar 3,1 persen, sementara dolar sempat turun ke level 99 sebelumnya.
"Ini mencerminkan masih tingginya ketidakpastian eksternal. Serta masih ada permintaan valas musiman terkait repatriasi dividen dan kebutuhan Haji,"
- Jessica Tasijawa
Respons Bank Indonesia dan pasar SBN
Sebagai respons stabilisasi, Bank Indonesia terus beroperasi melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN). Imbal hasil SBN tenor 2 tahun naik ke sekitar 6,7 persen, sedangkan yield tenor 10 tahun terjaga di sekitar 6,72 persen.
"Sehingga kurva yield menjadi semakin datar dan memperkuat pandangan kami terkait kebijakan suku bunga BI. BI kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di level 5,25 hingga akhir 2026,"
- Jessica Tasijawa
Prospek jangka menengah
Jessica menilai kebijakan suku bunga dan langkah stabilisasi melalui SBN bertujuan menjaga daya tarik yield dan mendukung aliran modal masuk. Prospek stabilitas rupiah dinilai berpotensi membaik pada semester kedua 2026 jika tekanan musiman mereda.
Selain itu, implementasi aturan baru penempatan Dana Hasil Eksploitasi Sumber Daya Alam (DHE SDA) dipandang dapat memperkuat likuiditas valas domestik dan membantu mendorong penguatan rupiah ke depan.
Berita Terkait
Rupiah Tembus Rp17.966 per Dolar, Tertekan Konflik AS-Iran
Rupiah melemah 0,71% ke Rp17.966 per dolar pada penutupan 3 Juni 2026, dipicu ketegangan AS-Iran, lonjakan h...
Pertamina Diminta Perkuat Eksplorasi dan Kemitraan Global
Pengamat Benny Lubiantara minta Pertamina perkuat eksplorasi, EOR, dan kemitraan global untuk jaga ketahanan...
Indonesia Perkuat Perdagangan dengan Cili lewat Forum Bisnis
Indonesia perkuat hubungan perdagangan dengan Cili lewat forum bisnis di Santiago; CEPA dan promosi pameran...
IPF Dorong Sinergi Atasi Tekanan di Industri Kemasan Plastik
IPF mendorong kolaborasi dan pengembangan kemasan sirkular untuk meredam tekanan berat pada industri kemasan...
Industri Kemasan Plastik Tertekan Pelemahan Rupiah dan Krisis Pasokan
Pelemahan rupiah dan krisis pasokan impor (PE, PP, PET) tekan industri kemasan plastik; pengiriman melambat...
IHSG Anjlok 4,11% ke 5.941, Transaksi Rp25,16 T pada 3 Juni
IHSG turun 4,11% ke 5.941 pada 3 Juni 2026, terdorong pelemahan rupiah, naiknya harga minyak, dan penilaian...