Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.891, Fluktuasi Masih Tinggi

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS pada 30 Juni 2026

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Menurut data Bloomberg, rupiah tercatat di level Rp17.891 per dolar AS, turun sekitar 0,22 persen dari penutupan sehari sebelumnya. Pelemahan ini mengikuti penguatan pada 29 Juni yang mencapai Rp17.851 per dolar AS.

Pergerakan dan proyeksi

Analis menilai pergerakan rupiah masih akan bergerak terbatas dalam jangka pendek. Kondisi range bound diperkirakan tetap berlaku, dengan risiko pelemahan yang terbatas selama pasar menunggu data ekonomi penting.

"Rupiah diperkirakan akan range bound terhadap dolar AS dengan risiko melemah terbatas,"

Demikian diungkapkan Lukman Leong, analis pasar uang dari Doo Financial Futures. Ia menambahkan bahwa para investor cenderung wait and see menjelang rilis serentetan data ekonomi, terutama dari Amerika Serikat.

"Investor cenderung wait and see menjelang rilis serentetan data-data ekonomi penting,"

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS dalam waktu dekat.

Faktor penopang

Di sisi domestik, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah menegaskan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Tim analis Mirae Asset Sekuritas menilai langkah stabilisasi BI memberi dukungan pada rupiah, sementara sentimen eksternal menunjukkan perbaikan.

BI melaporkan adanya arus masuk modal asing, tercatat sekitar USD9 miliar ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Aliran modal ini datang setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 serta ekspansi operasi moneter yang nilainya dilaporkan mencapai Rp1.000 triliun sampai akhir Juni 2026.

"Koordinasi kebijakan yang semakin erat akan terus menopang stabilitas rupiah dan arus masuk portofolio,"

Risiko dan prospek ke depan

Meskipun ada penopang domestik, prospek rupiah masih dipengaruhi risiko eksternal. Perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang berubah-ubah membuat investor berhati-hati. Selain itu, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama juga menjadi faktor tekanan.

Tim Mirae menekankan bahwa keberlanjutan aliran modal dan stabilitas rupiah bergantung pada kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan kemajuan reformasi struktural di dalam negeri. Pasar diperkirakan tetap waspada hingga serangkaian data ekonomi global dirilis dalam beberapa hari mendatang.

Dengan demikian, meski dukungan kebijakan domestik menahan tekanan, rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif dan bergerak dalam kisaran yang relatif sempit dalam jangka pendek.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait