Rupiah Tertekan, Dekati Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan dan semakin mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Data pasar menunjukkan rupiah turun 0,42 persen atau 75 poin ke posisi Rp17.978 per dolar AS pada penutupan hari ini, dipicu oleh ketegangan geopolitik dan harga minyak yang tinggi.
Geopolitik Dorong Tekanan Nilai Tukar
Tekanan utama datang dari dinamika di Timur Tengah. Negosiasi antara AS dan Iran yang tarik-ulur, serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi, serta insiden di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi.
Harga minyak mentah bertahan di atas USD90 per barel, menambah beban pada mata uang negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Iran menyatakan tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sementara Presiden Trump mengatakan akan ada negosiasi di minggu ini dengan mediasi Qatar.
Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang, menyampaikan pernyataan tersebut pada Senin, 28 September 2026.
Insiden Militer dan Risiko Pasokan Energi
Insiden di wilayah perairan strategis memperparah sentimen. Rudal jelajah Iran dilaporkan menghantam kapal AS dan menyebabkan sejumlah personel terluka, sementara serangan Houthi meningkat terhadap kapal dagang di Laut Merah.
Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran pasar atas kelancaran pasokan minyak global, yang mendorong harga tetap tinggi dan memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Data Ekonomi AS Menjadi Fokus Pekan Ini
Selain faktor eksternal, pasar menantikan serangkaian data ekonomi AS yang dapat mengubah ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Rilis yang dipantau antara lain indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), serta Purchasing Managers’ Index (PMI) versi Institute for Supply Management (ISM), dan data penggajian non-pertanian (NFP).
"Rilis data-data tersebut memainkan peranan penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan the Fed bulan depan," ujar Ibrahim.
Dampak pada Kebijakan Domestik
Di dalam negeri, pasar mengamati risiko lanjutan dari harga minyak yang lebih tinggi dibanding asumsi APBN 2026 yang berada di sekitar USD70 per barel. Jika harga tinggi berlangsung lama, pemerintah menghadapi beberapa opsi kebijakan:
- Menambah subsidi dan kompensasi
- Melakukan realokasi belanja
- Menyesuaikan harga energi domestik
Dengan kondisi tersebut, ruang untuk pelonggaran moneter diperkirakan semakin terbatas, ditambah risiko inflasi dan gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Niño.
Pasar kini akan terus memantau kombinasi perkembangan geopolitik, arah harga minyak, dan data ekonomi AS untuk menentukan arah rupiah dalam beberapa minggu mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Prakiraan IHSG: Minim Katalis, Rawan Terkoreksi
IHSG diperkirakan rawan terkoreksi setelah penutupan turun 0,90%; investor menunggu data PMI, neraca perdaga...
KAI Modernisasi Puluhan Kereta Makan, Tingkatkan Layanan Konsumsi
KAI memodernisasi puluhan kereta makan lewat modifikasi dan pengadaan 612 kereta baru, sambil mempertahankan...
Telkom dan Danantara Perkuat Ekonomi Digital di FEKDI x IFSE 2026
Telkom dan Danantara hadirkan Telkom Solution di FEKDI x IFSE 2026 untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan ke...
IHSG Turun 3,09% Sepekan, Investor Asing Catat Net Sell Rp559,16 M
IHSG turun 3,09% (21-25 Sept 2026), ditutup 6.241,89; investor asing catat jual bersih Rp559,16 miliar pekan...
Pertamax Turbo Jadi Official Energy Partner BMW Motorrad Days Bali 2026
Pertamax Turbo jadi Official Energy Partner BMW Motorrad Days Bali 2026; peserta mendapat E-Voucher MyPertam...
Produk Halal Indonesia Raup Potensi Rp17,6 M di MIHAS 2026
Produk halal Indonesia raih potensi transaksi Rp17,6 miliar di MIHAS 2026, naik 151% dari 2025; 23 pelaku di...