Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Tekanan Dolar AS
Nilai tukar rupiah berpeluang melanjutkan penguatan terhadap dolar AS pada Selasa, 6 Oktober 2026. Pada pukul 10.30 WIB rupiah tercatat di posisi Rp18.907 per dolar AS, naik 0,06 persen atau 10 poin dibandingkan penutupan Senin di Rp17.917.
Pergerakan pagi dan faktor pemicu
Pergerakan rupiah terjadi bersamaan dengan indeks dolar AS yang berada di kisaran 102,12-102,17. Indeks tersebut masih relatif kuat karena imbal hasil obligasi AS tenor panjang meningkat.
Imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi suku bunga
Analis Pasar Uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menjelaskan kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi salah satu faktor pendorong kekuatan dolar.
"Imbal hasil obligasi AS kembali meningkat meskipun data tenaga kerja AS melemah,"
Jessica menyebutkan imbal hasil tenor panjang telah mencapai level tertinggi dalam dua dekade lebih. Berikut data imbal hasil yang tercatat:
| Tenor | Imbal Hasil |
|---|---|
| US Treasury 10 tahun | 5,31% |
| US Treasury 30 tahun | 5,66% |
"Keduanya mencapai level tertinggi dalam 24 tahun, seiring kekhawatiran akan inflasi dan fiskal di AS,"
Menurut Jessica, kenaikan imbal hasil itu juga mendorong pasar memperhitungkan kebijakan suku bunga global yang lebih tinggi lebih lama (higher for longer).
"Pasar masih memperhitungkan kenaikan suku bunga the Fed satu kali lagi di bulan Desember,"
Data ekonomi AS dan implikasinya
Data sektor jasa AS dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan pelemahan moderat. Purchasing Managers' Index (PMI) sektor jasa tercatat 54,9 pada September, menurun dari bulan sebelumnya namun tetap di zona ekspansi (>50).
Meskipun aktivitas jasa masih tumbuh, tekanan harga tetap tinggi. Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap risiko inflasi jangka menengah di AS.
Dampak pada nilai tukar dan prospek
Tekanan imbal hasil dan ekspektasi kebijakan The Fed diperkirakan menyulitkan rupiah untuk menguat signifikan dalam jangka pendek. Namun, pergerakan intraday masih memungkinkan penguatan kecil seperti yang terlihat pagi ini.
Pelaku pasar akan terus memantau data ekonomi AS dan sinyal kebijakan bank sentral. Pergerakan lebih lanjut pada imbal hasil dan indeks dolar bakal menentukan arah rupiah hari ini dan ke depan.
Secara ringkas, rupiah menunjukkan peluang penguatan di tengah dinamika imbal hasil AS dan ekspektasi suku bunga global. Pemantauan data ekonomi dan keputusan kebijakan tetap krusial bagi sentimen pasar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...
Buyer Spanyol Tertarik Limbah Jaring Ikan untuk Pelet Nilon 6
Calon buyer Spanyol menjajaki limbah jaring ikan untuk diolah jadi pelet nilon 6; Atase Perdagangan RI Madri...