Rumah Si Pitung Marunda: Bertahan dari Banjir Rob dan Turunnya Pengunjung
Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara, berdiri sejak era 1880-an dan kini berstatus cagar budaya. Situs bersejarah ini menghadapi ancaman banjir rob dan penurunan pengunjung setelah penyesuaian harga tiket akhir 2024.
Sejarah singkat dan status cagar budaya
Rumah panggung yang diyakini pernah menjadi persembunyian Si Pitung itu resmi ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1972. Bangunan kayu ini menjadi saksi sejarah komunitas pesisir Jakarta dan warisan arsitektur tradisional Betawi.
Ancaman banjir rob dan penanganan struktural
Terletak di kawasan pesisir, rumah tersebut terdampak penurunan muka tanah dan gelombang pasang. Untuk mengantisipasi rob, pengelola melakukan renovasi besar pada 2009–2010 dengan meninggikan teras dan bangunan utama.
"Aslinya bangunan ini panggungnya langsung menyentuh tanah. Baru sekitar tahun 2009-2010 dinaikkan sebagai antisipasi rob," kata Darma Utama, pengelola dan pemandu museum, Senin, 1 Juni 2026.
Meskipun sudah dinaikkan, museum masih pernah kebanjiran. Pada Desember tahun lalu air sempat masuk hingga setinggi mata kaki, menurut pengelola.
Harga tiket naik, kunjungan menurun
Sejak akhir 2024 pengelola menyesuaikan biaya masuk. Sebelumnya tiket dipatok Rp5.000, kini menjadi Rp10.000 pada hari kerja dan Rp15.000 pada akhir pekan. Perubahan ini berdampak pada penurunan minat kunjungan, terutama dari keluarga lokal.
Pengelola mencatat penurunan jumlah pengunjung anak-anak dan keluarga. "Sangat berasa pengaruhnya. Kalau dulu bawa tiga atau empat anak masih murah, sekarang kerasa juga bagi warga," ujar Darma Utama.
Upaya menambah daya tarik
Untuk menarik kembali pengunjung, pengelola menambah aktivitas edukatif dan interaktif. Selain melihat arsitektur, pengunjung kini bisa mengikuti pemutaran film sejarah, kegiatan menggambar, dan belajar alat musik tradisional secara gratis bagi anak-anak.
Penambahan program dirancang khusus untuk menjaring minat generasi muda dan pengunjung keluarga. Namun biaya masuk yang lebih tinggi tetap menjadi kendala utama.
Harapan dan langkah ke depan
Pengelola berharap ada evaluasi kebijakan harga tiket agar Rumah Si Pitung kembali ramai sebagai sarana edukasi sejarah. Dukungan dari pemangku kepentingan dan langkah mitigasi banjir jangka panjang dinilai penting untuk menjaga kelestarian situs ini.
Bagi warga setempat dan pecinta sejarah, Rumah Si Pitung tetap menjadi destinasi bernilai historis sekaligus identitas budaya pesisir Jakarta.
Berita Terkait
Yayasan AHM Gelar Safety Riding Short Movie Contest 2026
Yayasan AHM menggelar Safety Riding Short Movie Contest 2026 untuk ajak generasi muda sampaikan pesan kesela...
Rupiah Melemah Dorong Lonjakan Permintaan Mutiara Lombok
Melemahnya rupiah sejak awal 2026 mendorong lonjakan pesanan mutiara Lombok dari Malaysia dan Singapura, nam...
Mengenal Sak Yant: Tato Spiritual dalam Tradisi Buddha
Sak Yant adalah seni tato spiritual dalam tradisi Buddha yang dipercaya membawa doa, perlindungan, dan pengi...
BMKG: Suhu Bali Turun saat Awal Musim Kemarau
BMKG: Suhu di Bali turun pada malam dan dini hari karena massa udara dingin dari Australia saat awal musim k...
Grebeg Besar Surakarta 2026: Dua Gunungan Perkuat Syukur dan Persatuan
Grebeg Besar Surakarta 28-29 Mei 2026 menampilkan dua gunungan sebagai simbol syukur, persatuan, dan pelesta...
Grebeg Besar Keraton Yogyakarta: Makna dan Penyederhanaan 2026
Grebeg Besar Yogyakarta 27 Mei 2026 disederhanakan atas titah Sultan; arak-arakan dan rayahan gunungan ditia...