Gaya Hidup

Hari Lahir Tan Malaka: Jejak Pemikir Republik Indonesia

Bagikan:
Potret Tan Malaka, tokoh perumus gagasan Republik Indonesia dan Pahlawan Nasional

2 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Tan Malaka, tokoh penting perjuangan kemerdekaan Indonesia yang lahir 1897. Ia dikenal sebagai penggagas awal konsep Republik Indonesia dan berpengaruh dalam politik masa kemerdekaan.

Asal, nama, dan pengakuan sebagai perumus republik

Tan Malaka lahir dengan nama Sutan Ibrahim di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897. Gelar Datuk Tan Malaka berasal dari garis keturunan pihak ibu.

Berdasarkan catatan Pusat Sejarah (Pusjarah) Polri, Tan menjadi orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. Tokoh Muhammad Yamin bahkan menyebutnya sebagai salah satu pelopor gagasan republik.

Pendidikan dan pembentukan pemikiran politik

Sejak muda Tan menunjukkan kemampuan akademik menonjol yang membuka kesempatan melanjutkan studi ke Belanda. Di sana ia mempelajari kolonialisme, ketidakadilan, dan perjuangan bangsa terjajah.

Pengalaman di Eropa dan Rusia membentuk pola pikir kritisnya, sehingga Tan aktif dalam gerakan menentang kolonialisme setelah kembali ke kawasan Asia.

Karya dan organisasi politik

Pada 1925 Tan menerbitkan buku berjudul Naar de Republiek Indonesia saat berada di Kanton, yang memuat gagasan republik jauh sebelum Proklamasi 1945. Gagasan itu memperkuat keyakinan bahwa Indonesia mampu menjadi negara merdeka.

Pada 1922 ia mewakili Indonesia di Kongres Keempat Komintern dan ditunjuk sebagai agen Komintern untuk Asia Tenggara dan Australia. Kemudian ia mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok pada 1927 untuk membangun kader bawah tanah.

Peran dalam masa kemerdekaan dan perbedaan politik

Tan tampil dalam peristiwa penting awal kemerdekaan, termasuk rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945, yang menjadi dukungan massa besar pertama terhadap Proklamasi. Ia menilai pertemuan itu sebagai uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan.

Meskipun sempat dekat dengan gerakan komunis internasional, Tan tidak selalu sejalan dengan PKI dan berkonflik dengan beberapa tokoh partai tersebut. Konflik ini menyulitkan posisinya di panggung politik setelah masa revolusi.

Penangkapan, perjuangan bersenjata, dan wafat

Tan ditangkap pada 6 Juli 1946 dan ditahan tanpa pengadilan selama dua tahun. Setelah dibebaskan, ia mendirikan Partai Murba sebagai kendaraan politik baru.

Pada masa agresi Belanda, Tan membentuk Gerilya Pembela Proklamasi di Kediri untuk mempertahankan prinsip kemerdekaan penuh. Namun kelompok ini tidak mendapatkan dukungan TNI yang memilih jalur perundingan.

Pada Februari 1949 Tan ditangkap lagi di Kediri dan kemudian dieksekusi dengan cara ditembak, meninggal pada usia 51 tahun.

Warisan dan penghargaan

Pemerintah menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, menghubungkan Payakumbuh dengan Suliki.

Selain peran politik, Tan memprioritaskan pendidikan kerakyatan. Ia merumuskan tiga dasar pendidikan yang perlu dikembangkan masyarakat, yaitu:

  • Keterampilan, termasuk berhitung, menulis, bahasa, dan ilmu pengetahuan.
  • Organisasi dan demokrasi untuk membangun kepercayaan diri masyarakat.
  • Orientasi kepada rakyat kecil agar pendidikan berdampak langsung pada perjuangan sosial.

Gagasan pendidikan Tan terinspirasi dari pengalaman di luar negeri dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Warisannya tetap menjadi bagian penting sejarah nasional dan kajian politik kemerdekaan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait