Politik

Refleksi 30 Tahun Kudatuli, PDI Perjuangan Malang Perkuat Kader

Bagikan:
Kader PDI Perjuangan Kota Malang saat sarasehan Refleksi 30 Tahun Kudatuli

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mengajak kader memperkuat kapasitas intelektual dan ideologis saat peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli pada Minggu malam di kantor DPC Kota Malang. Acara bertajuk Refleksi 30 Tahun Tragedi Kudatuli: Kami Tidak Lupa diselenggarakan untuk mengenang peristiwa 27 Juli 1996 sekaligus menempatkannya sebagai momen pendidikan politik bagi kader, terutama generasi muda.

Tujuan dan peserta kegiatan

Sarasehan itu dihadiri jajaran struktural partai, kader senior, dan masyarakat umum. Selain menjadi ruang mengenang sejarah perjuangan, forum diarahkan sebagai wadah penguatan kader hingga tingkat ranting.

Amithya menekankan bahwa peringatan bukan sekadar kenangan, melainkan alat untuk membangun kesiapan politik kader menghadapi tantangan zaman.

Pesan utama: ingat sejarah, perkuat kapasitas kader

Dalam pidatonya, Amithya mengingatkan pentingnya menjaga ingatan kolektif dan identitas partai. Ia menekankan perlunya pembelajaran sejarah yang konkret agar kader tidak kehilangan arah perjuangan.

“Refleksi hari ini dimaksudkan untuk menilik kembali sejarah dan memastikan kita tidak kehilangan ingatan kolektif. Bung Karno pernah menegaskan bahwa bangsa yang melupakan sejarah pasti akan kehilangan arah. Begitu pula partai yang melupakan proses perjuangannya, akan kehilangan jati diri,”

Ia menegaskan bahwa pemahaman sejarah harus diikuti oleh pengembangan kapasitas intelektual dan ideologis agar kader mampu menjawab dinamika politik modern.

Pembicara dan perhatian pada generasi muda

Acara menghadirkan Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D., Kepala Pascasarjana Politik FISIP Universitas Airlangga, sebagai pembicara. Airlangga juga dikenal sebagai penulis buku Marhaenisme untuk Gen Z.

Dalam paparan, Airlangga menyebut generasi muda tetap peduli pada persoalan bangsa meski hidup di era digital dan kecerdasan buatan.

“Mereka sangat paham dengan persoalan bangsa. Mereka sadar politik dan tahu betul bahwa saat ini kita semua sedang ditekan secara politik. Saya percaya, dengan kapasitas intelektual yang kita miliki hari ini, mereka terus melawan,”

Menurutnya, energi kritis kaum muda membutuhkan ruang untuk menyalurkan gagasan dan berkontribusi dalam perubahan sosial. Ia mendorong partai hadir sebagai wadah pengorganisasian tersebut.

Rangkaian kegiatan dan penutup

Selain diskusi, refleksi diisi pembacaan puisi karya Wiji Thukul dan monolog Mahkota yang Terlalu Berat oleh Dimas Novip sebagai penghormatan terhadap semangat perjuangan demokrasi.

  • Tujuan: menguatkan ingatan kolektif dan kapasitas kader
  • Peserta: struktural partai, kader, dan masyarakat
  • Kegiatan: diskusi, pembacaan puisi, dan monolog

Menutup acara, Amithya berharap refleksi itu makin mengokohkan komitmen partai untuk selalu berpihak kepada rakyat.

“Semoga diskusi hari ini semakin menumbuhkan komitmen kita untuk terus hadir sebagai partai yang selalu berpihak kepada rakyat,”

Refleksi 30 tahun Kudatuli di Malang menjadi upaya mengaitkan pengalaman sejarah dengan kebutuhan pelatihan ideologis dan intelektual kader untuk menghadapi tantangan politik ke depan.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait