Nasional

Prabowo Perkuat Kesejahteraan Petani dengan Kebijakan Pertanian

Bagikan:
Presiden dan legislator bertemu petani di acara PENAS Gorontalo untuk kebijakan pertanian

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah terhadap petani saat menghadiri Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) ke-17, 24 Juni 2026 di Gorontalo. Pemerintah menggelar serangkaian kebijakan, dari peningkatan kuota pupuk subsidi hingga modernisasi alat pertanian, untuk memperkuat kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional.

Peningkatan kuota dan penurunan harga pupuk

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menyatakan pemerintah menggandakan kuota pupuk bersubsidi menjadi 9,5 juta ton dan menyederhanakan distribusi. Selain itu, harga pupuk subsidi diturunkan hingga sekitar 20 persen.

"Pada 24 Juni 2026 lalu, Presiden Prabowo Subianto menghadiri acara puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan ke-17 di Kabupaten Gorontalo. Kehadiran Presiden dalam acara tersebut menjadi penegasan komitmen dan keberpihakan pemerintah kepada petani yang selama ini menjadi tulang punggung negara dalam mencapai kedaulatan pangan nasional,"

Qodari juga menyebutkan bahwa kebijakan subsidi kini kembali mencakup sektor perikanan, sehingga dukungan tidak hanya untuk komoditas tanaman pangan melainkan juga bagi nelayan.

Modernisasi alat dan dukungan fiskal

Pemerintah mempercepat modernisasi pertanian dengan menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Kementerian Pertanian menyiapkan sekitar 38.969 unit alsintan untuk 2026 dengan anggaran sekitar Rp4,19 triliun.

Selain itu, pemerintah menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa rafaksi. Kebijakan ini dimaksudkan untuk menjaga harga gabah tetap menguntungkan bagi petani.

"Di era kepemimpinan Presiden Prabowo, bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani telah ditunjukkan lewat berbagai kebijakan. Untuk menjamin pupuk subsidi selalu tersedia dalam jumlah cukup dan tepat waktu, pemerintah menambah kuantum pupuk subsidi hingga dua kali lipat menjadi 9,5 juta ton dan memangkas rantai birokrasi,"

Dampak terhadap kesejahteraan petani dan ketahanan pangan

Menurut Qodari, kebijakan itu berdampak positif pada indikator ekonomi petani. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, tercatat sebagai angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

"Keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian ini pun telah membuahkan hasil manis dengan menguatnya ketahanan pangan nasional. Seiring dengan hal itu, kehidupan petani juga semakin sejahtera. Menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73. Ini adalah angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir, yang berarti ekonomi dan daya beli para petani kini semakin membaik," kata Qodari.

Ke depan, pemerintah berencana terus memantau distribusi pupuk dan efektivitas program alsintan untuk memastikan manfaat sampai ke petani skala kecil. Langkah ini diharapkan mendongkrak produktivitas dan stabilitas harga pangan di dalam negeri.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait