BRIN Temukan Philautus candrageni di Merapi, Tekankan Konservasi
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan pentingnya upaya konservasi setelah tim penelitinya menemukan spesies katak semak baru, Philautus candrageni, di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta. Penemuan ini diumumkan melalui publikasi ilmiah pada Maret 2026 dan menambah daftar amfibi endemik Pulau Jawa. Temuan sekaligus menegaskan kebutuhan perlindungan habitat karena sebaran spesies yang sangat terbatas.
Penemuan dan metode penelitian
Penemuan Philautus candrageni merupakan hasil survei lapangan yang dilakukan tim Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN selama 2017–2025. Tim dipimpin oleh Alamsyah Elang Nusa Herlambang dan juga menelaah koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense. Hasil kajian akhirnya dipublikasikan di jurnal internasional Zootaxa, Volume 5768, edisi Maret 2026. Pendekatan gabungan lapangan, morfologi, genetik, dan bioakustik menguatkan klaim sebagai spesies baru.
Ciri khas dan area sebar
Menurut peneliti, spesies ini memiliki ukuran tubuh sedang dengan tekstur kulit relatif halus. Paling menonjol adalah pola panggilan kawin yang unik, terdiri atas tiga nada berbeda. Analisis genetik memperlihatkan perbedaan jelas dibandingkan kerabat terdekat dalam genus Philautus. Distribusinya tercatat sangat terbatas pada lereng Gunung Merapi, terutama di habitat perkebunan dan kawasan pegunungan ketinggian menengah.
"Philautus candrageni memiliki ciri tubuh berukuran sedang. Selain itu, pola panggilan kawin yang terdiri atas tiga nada berbeda," kata Alamsyah dalam keterangannya.
Ancaman dan seruan konservasi
BRIN menyoroti bahwa spesies endemik dengan area sebar kecil rentan terhadap perubahan lingkungan. Ancaman utama adalah degradasi habitat karena aktivitas manusia dan perubahan ekosistem pegunungan. Untuk itu, peneliti menyerukan langkah konservasi yang terarah untuk menjaga habitat alami dan kelangsungan populasi di alam.
Langkah konservasi yang diusulkan antara lain pemantauan populasi, perlindungan habitat kritis, dan integrasi data ke rencana pengelolaan wilayah. Upaya ini dinilai penting untuk mencegah penurunan yang cepat pada spesies baru tersebut.
Makna temuan bagi keanekaragaman hayati
Penemuan ini menambah jumlah spesies endemik genus Philautus di Pulau Jawa yang sebelumnya tercatat tiga spesies. Data baru tersebut memperkaya basis pengetahuan amfibi Indonesia dan memperkuat posisi negara sebagai salah satu negara megabiodiversitas. BRIN menyatakan akan melanjutkan eksplorasi dan kajian biodiversitas sebagai bagian dari strategi ilmiah dan konservasi nasional.
Dengan bukti morfologi, genetik, dan bioakustik yang kuat, Philautus candrageni menjadi pengingat bahwa masih banyak keragaman hayati yang belum terungkap dan membutuhkan perlindungan terencana.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Abbas Ibn Firnas, Pelopor Penerbangan dari Andalusia
Abbas Ibn Firnas, ilmuwan Andalusia, melakukan uji coba terbang bersejarah sekitar 875 M dan menjadi pelopor...
ScaleOcean Atlas: Platform Operasional untuk Semua Skala Bisnis
ScaleOcean Atlas hadir sebagai platform operasional terintegrasi dengan ScaleMind, AI yang menyesuaikan pros...
Kepala BPOM Dorong Pemanfaatan AI untuk Perkuat SDM
Kepala BPOM Taruna Ikrar dorong pemanfaatan AI untuk memperkuat kapasitas SDM dan memperbaiki sistem merit,...
MenPAN-RB Dorong Transformasi Digital ASN, BPOM Perkuat Layanan
MenPAN-RB mendorong pemanfaatan AI untuk memperkuat layanan ASN; BPOM luncurkan aplikasi digital dan perluas...
BRIN Kembangkan N219 dan Varian Amfibi sebagai Ambulans Terbang
BRIN mengembangkan N219 dan varian amfibi serta drone MALE sebagai ambulans terbang untuk mempercepat evakua...
Manus Kembali Mandiri setelah Beijing Blokir Akuisisi Meta
Manus kembali beroperasi mandiri setelah Beijing memblokir akuisisi Meta; beberapa data akhir Desember akan...