Kemenperin Perkuat Hilirisasi untuk Tingkatkan Konsumsi Susu
Kementerian Perindustrian memperkuat hilirisasi dan kemitraan dengan peternak untuk meningkatkan pasokan dan konsumsi susu nasional menjelang peringatan Hari Susu Nusantara 2026. Langkah ini diumumkan di Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya menaikkan daya saing industri susu dalam negeri dan memperbaiki ketahanan pangan.
Kebutuhan, konsumsi, dan ketergantungan impor
Data menunjukkan konsumsi susu Indonesia masih rendah, sebesar 17,76 liter per kapita per tahun menurut World Population Review 2022. Angka itu berada di bawah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
Sementara itu, kebutuhan bahan baku untuk industri pengolahan susu mencapai sekitar 5 juta ton per tahun, di mana sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor. Kondisi ini mendorong pemerintah untuk memperkuat pasokan susu segar domestik.
Hilirisasi dan kemitraan sebagai strategi utama
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya peran industri susu bagi gizi dan ketahanan pangan nasional. Ia menyebut rendahnya konsumsi merupakan peluang pengembangan.
"Industri susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia justru menjadi peluang besar bagi pengembangan industri susu nasional ke depan,"
Pelaksana Tugas Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyatakan kemitraan adalah kunci untuk membangun rantai pasok yang berkelanjutan antara peternak, koperasi, dan pengolah.
"Penguatan rantai pasok susu segar dalam negeri melalui program kemitraan menjadi salah satu kunci utama. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu perlu terus diperkuat,"
Dukungan teknologi dan insentif industri
Pemerintah mendorong adopsi teknologi seperti cooling unit dan digitalisasi di Tempat Penerimaan Susu (TPS) untuk meningkatkan kualitas dan transparansi pasokan. Sampai 2024, digitalisasi telah diterapkan di 96 TPS, melibatkan 9 koperasi dan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.
Kemenperin juga mengembangkan aplikasi pemantauan pasokan susu segar untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok. Selain itu, Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan Industri Makanan dan Minuman memberikan penggantian biaya hingga 35 persen untuk pembelian mesin baru sebagai insentif modernisasi.
Implikasi dan prospek
Dengan kombinasi hilirisasi, kemitraan, dan dukungan teknologi, pemerintah berharap industri susu nasional menjadi lebih mandiri dan berdaya saing. Peningkatan pendapatan masyarakat, tren hidup sehat, dan program makan bergizi menjadi peluang untuk menaikkan konsumsi domestik.
Ke depan, sinergi antara kebijakan fiskal, program teknologi, dan keterlibatan peternak lokal akan menentukan seberapa cepat ketergantungan impor dapat dikurangi dan produksi susu dalam negeri meningkat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...