IHSG Anjlok 4,94% di Sesi I, Turun ke 5.889
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada sesi I Rabu, 3 Juni 2026. IHSG turun 4,94 persen atau 305,94 poin ke level 5.889,48 setelah dibuka di 6.207,10. Pergerakan ini mendorong IHSG menembus level psikologis 6.000.
Pergerakan pasar pada sesi pertama
IHSG sempat mencapai titik tertinggi di 6.213,8 dan terendah di 5.876,32. Penurunan yang tajam terjadi menjelang penutupan sesi I, saat sentimen negatif mendominasi pasar.
Faktor pemicu penurunan
Tim Riset Phintraco Sekuritas mengidentifikasi beberapa faktor yang memicu koreksi pasar. Kombinasi sentimen domestik dan global membuat investor mengambil langkah berhati-hati.
- Penilaian lembaga: Moody's memberi peringkat Baa2 dengan outlook negatif pada Danantara Investment Management, yang memperburuk sentimen.
- Pelemahan rupiah: kurs rupiah melemah hingga Rp17.926/USD, menambah tekanan di pasar modal.
- Kenaikan harga minyak dunia yang kembali menguat, meningkatkan kekhawatiran atas defisit APBN dan inflasi.
- Ketidakpastian geopolitik, termasuk belum tercapainya perdamaian antara AS dan Iran, yang mendorong naiknya harga minyak.
“Hingga menjelang penutupan sesi I perdagangan 3 Juni 2026, IHSG melemah lebih dari 4 persen. Menembus level psikologis 6000, hingga mendekati level 5900,” ujar Tim Riset Phintraco Sekuritas.
Rupiah, minyak, dan kekhawatiran inflasi
Tim riset menilai pelemahan rupiah terkait penguatan kembali harga minyak. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya defisit anggaran dan percepatan inflasi.
“Rupiah kembali tertekan, melemah menembus level Rp17,926/USD, yang antara lain disebabkan oleh berbalik menguatnya kembali harga minyak dunia. Yang menambah kekhawatiran pasar akan potensi melebarnya defisit APBN serta meningkatnya laju inflasi,” kata Tim Phintraco Sekuritas.
Penguatan harga minyak yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik juga membuat khawatir pelaku pasar. Menurut Tim Phintraco, kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi, setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara YoY.
“Belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS-Iran telah mendorong penguatan harga minyak yang sebelumnya sempat koreksi. Sehingga menimbulkan kecemasan akan meningkatnya laju inflasi, di mana inflasi pada Mei 2026 telah meningkat hingga 3.08 persen YoY,” ucap Tim Phintraco Sekuritas.
Dampak dan prospek
Pasar diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan harga minyak global, data inflasi, dan pergerakan rupiah. Investor akan memantau indikator makro berikutnya dan sentimen eksternal sebelum menilai apakah koreksi ini hanya sementara atau berlanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...