Nasional

KOWANI: Perempuan sebagai Penjaga Nilai Kemanusiaan di Hari Perdamaian

Bagikan:
Renungan Malam KOWANI di Bundaran HI memperingati Hari Perdamaian Internasional

Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menegaskan peran strategis perempuan sebagai pendidik pertama dan penjaga nilai kemanusiaan dalam peringatan Hari Perdamaian Internasional di Jakarta, 21-22 September 2026. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum KOWANI 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, sehubungan dengan naiknya kasus kekerasan dan pengaruh negatif konten digital.

Peran perempuan dalam menjaga kemanusiaan

Nannie menyatakan perempuan memegang posisi vital dalam merawat kehidupan keluarga dan membangun perdamaian sosial. Ia menegaskan peran tersebut penting untuk membendung efek destruktif dari kekerasan dan arus konten negatif.

"KOWANI memandang perempuan mempunyai kedudukan penting. Sebagai pendidik pertama, penjaga nilai kemanusiaan, perawat kehidupan, penggerak keluarga, pemimpin masyarakat, sekaligus pembangun perdamaian," ujar Nannie.

Peran yang disebut termasuk fungsi domestik dan publik. Secara ringkas, KOWANI merinci peran perempuan sebagai:

  • pendidik pertama anak;
  • penjaga nilai kemanusiaan;
  • perawat kehidupan dan penggerak keluarga;
  • pemimpin di tingkat masyarakat dan pembangun perdamaian.

Gerakan jaringan dan konsep seribu

Nannie menekankan pentingnya kolaborasi lintas organisasi untuk menghadapi persoalan sosial. KOWANI mengklaim memiliki jaringan yang menghimpun 119 organisasi wanita di tingkat nasional sebagai basis gerakan.

"Kami memperkenalkan konsep seribu profesi, seribu organisasi, seribu komunitas untuk menjawab seribu permasalahan. Itu yang sedang kita galakkan," ujar Nannie.

Konsep ini mendorong pengorganisasian berbasis keahlian untuk menyalurkan gagasan positif dan solusi praktis di masyarakat.

Aksi publik: Renungan Malam untuk Perdamaian Dunia

Pesan KOWANI juga disuarakan melalui agenda Renungan Malam untuk Perdamaian Dunia yang digelar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Senin, 21 September 2026. Kegiatan berlangsung khidmat dan diisi doa lintas agama bersama tokoh dari berbagai keyakinan.

Menurut Nannie, sinergi spiritual dan sosial diarahkan untuk memperkokoh kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menanamkan sikap saling menghormati di tengah perbedaan.

Pelestarian arsip dan upaya internasional

Selain kegiatan publik, KOWANI berupaya merawat arsip sejarah organisasi. Nannie menyebut arsip itu akan diajukan untuk masuk dalam Memory of the World melalui UNESCO.

UNESCO dipilih sebagai tujuan pengajuan agar koleksi arsip mendapat pengakuan dan dikenal secara internasional.

"Kami memiliki arsip yang masih terus dirawat dan ditata dengan baik. Arsip tersebut akan kami daftarkan kepada UNESCO untuk diusulkan menjadi bagian dari Memory of the World agar lebih dikenal dunia," ujar Nannie.

Penutup: Komitmen jangka panjang

KOWANI berharap peringatan Hari Perdamaian Internasional tidak sekadar seremoni. Nannie mengajak perempuan Indonesia untuk memperkokoh ketahanan keluarga melalui dialog, pendidikan nilai, dan aksi berkelanjutan demi mewujudkan kedamaian abadi bagi generasi penerus.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait