Nasional

Bapanas Pastikan Pasokan Beras Aman Usai Penarikan 25 Merek

Bagikan:
Gudang penyimpanan beras Bulog sebagai penyangga pasokan beras nasional

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan pasokan beras nasional tetap terjaga di tengah penarikan 25 merek beras fortifikasi yang diduga tidak memenuhi standar. Data per 18 September 2026 menunjukkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekitar 4,6 juta ton, sementara penyaluran CBP sepanjang 2026 hingga pertengahan September mencapai sekitar 2,3 juta ton. Pemerintah memperkuat pasokan melalui penyaluran SPHP dan distribusi beras premium untuk mengatasi potensi gangguan pasokan dan tekanan harga.

Stok CBP dan penyaluran

Bapanas menyebut sedang memproses penambahan kuantum Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebesar 1 juta ton. Penambahan ini diarahkan ke daerah-daerah yang teridentifikasi mengalami tekanan harga dan kekurangan pasokan. Pemerintah menugaskan Perum Bulog untuk mengoptimalkan penyaluran stok, terutama beras premium, ke jaringan ritel modern.

Langkah ini ditujukan agar suplai cepat tersedia bagi konsumen. Selain itu, pasokan premium dianggap penting untuk menjaga pilihan produk di pasar sehingga tidak terjadi kelangkaan jenis beras tertentu.

Pengawasan mutu dan penarikan produk

Pemerintah melakukan pemeriksaan terhadap peredaran beras setelah menemukan indikasi peralihan produk beras premium menjadi produk yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi. Pemeriksaan laboratorium menjadi dasar pengawasan dan penarikan terhadap produk yang diduga tidak memenuhi mutu dan kandungan yang tercantum pada label.

Bapanas mencatat ada 25 merek yang dipasarkan sebagai beras fortifikasi dan diduga tidak memenuhi ketentuan SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan serta SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi. Sebanyak 11 pelaku usaha pemilik izin edar telah menerima surat peringatan dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) bersama Bapanas. Hingga minggu pertama September 2026, seluruh merek tersebut dilaporkan telah menghentikan produksi.

"Beras premium kami minta Bulog optimalkan men-supply, karena stoknya banyak. Itu ke toko-toko ritel modern, itu segera di-supply," ujar Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman.

Strategi distribusi dan mitigasi risiko

Untuk memperkuat ketersediaan, Bapanas menegaskan koordinasi intensif dengan Bulog. Fokus intervensi diarahkan ke wilayah yang teridentifikasi mengalami kenaikan harga dan tekanan pasokan. Pemerataan distribusi stok dan SPHP menjadi prioritas agar efek penarikan produk tidak mengganggu pasokan lokal.

"Tentunya penugasan Bulog untuk pemerataan distribusi stok dan program SPHP, terutama ke wilayah yang mengalami tekanan harga dan pasokan. Kami terus berkoordinasi dengan Bulog untuk intervensi SPHP ke daerah yang teridentifikasi harga tinggi," kata Yusra Egayanti, Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas.

Prospek dan langkah ke depan

Pemerintah juga menjaga CBP sebagai penyangga strategis menyongsong potensi gangguan produksi akibat fenomena El Nino. Pengawasan mutu dan penguatan pasokan dilakukan bersamaan agar masyarakat tetap memperoleh beras sesuai kebutuhan. Jika diperlukan, penambahan kuantum SPHP dan penyaluran target akan terus dilaksanakan untuk menstabilkan harga dan pasokan.

Dengan langkah pengawasan dan distribusi yang terkoordinasi, pemerintah menyatakan siap menindak lanjuti temuan laboratorium serta memperketat pengawasan agar standar mutu beras fortifikasi terpenuhi dan kestabilan pasokan terjaga.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait