OJK: Prospek Investasi Pasar Modal Tetap Kuat meski IHSG Tertekan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Tekanan pasar: geopolitik dan reformasi
OJK menyebut dua faktor utama yang menekan pasar modal saat ini. Pertama, ketidakpastian geopolitik global yang memengaruhi sentimen investor. Kedua, proses reformasi integritas di pasar modal nasional yang berdampak pada volatilitas jangka pendek.
Meski demikian, OJK meminta pelaku pasar agar tidak panik dan tetap melihat investasi sebagai komitmen jangka panjang.
Pesan OJK untuk investor
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang saat menilai investasi di pasar modal Indonesia.
Investasi di pasar modal, investasi di negara Indonesia adalah investasi jangka panjang. Karena itu kita harus selalu melihat bagaimana fundamental ekonomi kita ke depan.
Ia mengingatkan investor untuk terus mencermati indikator makroekonomi nasional dan kebijakan pemerintah yang memperkuat struktur pembiayaan.
Peran pasar modal dalam pembiayaan nasional
Menurut OJK, pembiayaan ekonomi ke depan tidak hanya bergantung pada perbankan. Pasar modal didorong menjadi salah satu pilar strategis pembiayaan nasional.
Kita lakukan untuk terus mendukung pembiayaan yang juga selain disokong dari sektor perbankan. Juga tentunya disokong oleh sektor-sektor lain, terutama juga dari pasar modal.
Dengan peran yang lebih besar, pasar modal diharapkan membantu pembiayaan proyek jangka panjang dan pembangunan strategis nasional.
Kebutuhan mesin pertumbuhan baru
OJK menilai Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang lebih solid dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan basis pembiayaan yang semakin dalam, likuid, dan beragam.
Kita membutuhkan mesin-mesin pertumbuhan yang lebih solid, mesin-mesin pertumbuhan ekonomi yang baru. Ditunjang dengan basis pembiayaan yang semakin dalam dan beragam.
OJK menekankan fungsi industri jasa keuangan tidak sekadar menampung modal masyarakat, tetapi juga mendukung kebutuhan pembiayaan jangka panjang.
Kesimpulan — OJK meminta ketenangan pasar dan mendorong fokus pada fundamental ekonomi jangka panjang. Meski IHSG bergerak di level tertekan, peran pasar modal sebagai pilar pembiayaan nasional tetap menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DFSK Kantongi 1.100 Pre-booking Jelang Peluncuran E5 Plus
DFSK mencatat 1.100 pre-booking untuk SUV PHEV E5 Plus sebelum peluncuran resmi di GIIAS 2026, menandakan mi...
Kemenperin Tegaskan Kepatuhan Pelaporan SIINas
Kemenperin meminta perusahaan patuh melaporkan data berkala melalui SIINas dan mengimbau keterlibatan penuh...
BI: Uang Beredar Juni 2026 Naik Jadi Rp10.432,8 Triliun
BI mencatat uang beredar (M2) Juni 2026 naik menjadi Rp10.432,8 triliun, didorong oleh kenaikan M1, uang kua...
BRI Life Revitalisasi Kantor Denpasar untuk Tingkatkan Layanan
BRI Life meresmikan wajah baru Kantor Layanan Denpasar pada 22 Juli 2026 untuk meningkatkan layanan, fasilit...
Harga Emas Pegadaian Stabil: Galeri24 & UBS (23 Juli 2026)
Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian tidak bergerak pada 23 Juli 2026; simak daftar harga per ukuran len...
Rupiah Melemah, Dibuka di Rp17.921 Jelang Sentimen Global
Rupiah dibuka melemah di Rp17.921 per dolar AS, dipengaruhi kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopoli...